Cerpen Romantis | Rembulan Tampak Anggun Walau Selalu Bertelanjang

Cerpen Romantis | Rembulan Tampak Anggun Walau Selalu Bertelanjang

Cerpen romantis kali ini mengisahkan seorang wanita bernama Sarah yang sudah bertunangan namun jatuh cinta kepada lelaki lain bernama Iwan. Pada kesempatan itu di sebuah gerbong kereta yang melaju meupakan pertemuan yang sangat berkesan bagi Sarah dan Iwan, mereka mencurahkan seluruh isi hati mereka masing-masing dengan diselimuti cinta yang teramat dalam.

Nangkirng.net_ Untuk lebih jelasnya mengenai cerpen romantis yang berjudul Rembulan Tampak Anggun Walau Selalu Bertelanjang mari baca langsung saja, sebelumnya Admin juga posting cepen romantis yang berjudul  Ikrar untuk September yang tidak kalah romantisnya dengan cerpen romantis Rembulan Tampak Anggun Walau Selalu Bertelanjang.

Cerpen romantis kali ini mengisahkan seorang wanita bernama Sarah yang sudah bertunangan namun jatuh cinta kepada lelaki lain bernama Iwan. Pada kesempatan itu di sebuah gerbong kereta yang melaju meupakan pertemuan yang sangat berkesan bagi Sarah dan Iwan, mereka mencurahkan seluruh isi hati mereka masing-masing dengan diselimuti cinta yang teramat dalam.

Rembulan Tampak Anggun Walau Selalu Bertelanjang

Penulis: O S I V


Nangkirng.net_ “Bukan bermaksud mengganggu hidupmu, tapi aku nyaman ketika bersamamu. Sungguh, Iwan. Aku mengerti dengan perasaanmu, kamu pasti kecewa karena aku tak menerima cintamu, tapi jauh di dasar hati, aku menemukan sesuatu darimu yang tak kutemukan dari kekasihku. Ada keistemawaan dari keperibadianmu yang membuatku betah saat  berlama-lama denganmu. Aku mohon jangan pernah menjauh dariku walau sejengkal sekalipun. Apapun yang terjadi padamu dan kita, aku harap kita selalu bersama.  Aku ada untukmu dan kamu ada untukku.” Dengan cucuran air mata mengalir di pipiku.

Iwan menundukkan kepalanya, dia pasti terpukul dengan pernyataanku. Rasa bersalah dan kini bergumul dengan jiwaku. Bagaimanapun hanya Iwan yang selama ini lebih dekat denganku dibanding kekasihku. Ia terlalu sibuk dengan karirnya, barangkali untuk menyempatkan waktu menemuiku seminggu sekali saja tidak. Tapi aku juga mengerti posisinya, ia sibuk hanya demi masa depan dan rencana pernikahan kami.

Dengan perlahan Iwan mengangkat wajahnya. Ada kesedihan menggelayut dalam kelopak matanya. Iwan menarik nafas panjang seraya menatapku dalam-dalam, dan menyeka air mata yang mengalir deras di pipiku.

Di saat-saat seperti ini Iwan masih sempat perhatian dengan menyeka air mataku yang rasanya tak pantas lagi dia lakukan. Ya Tuhan, ujian apalagi yang kau berikan padaku? Aku sungguh sangat nyaman bersama Iwan, andai aku tak punya kekasih, mungkin aku yang akan meminta Iwan untuk menjadi kekasihku. Inilah bedanya Iwan dan Geri, Geri terlalu acuh padaku, tapi Geri juga sangatlah setia, tiga tahun bersamaku nyaris tak pernah berkhianat. Andai Geri seperti Iwan, mungkin aku tak akan merasa bimbang seperti saat ini.

“Katakanlah Sarah! Apa yang harus kulakukan untuk kita?”

Aku bungkam dan termenung dengan pertanyaan Iwan, aku tak tahu apa yang harus katakan. Rasanya aku ingin meloncat saja keluar  dari gerbong kereta yang kami tumpangi.

“Katakanlah Sarah! Aku harus bagaimana?” Iwan kembali bertanya sambil mengangkat wajahku dengan telapak tangannya penuh kelembutan.

Brukkk, kubantingkan tubuhku di dada bidang Iwan, tercium harum parfum dari kemeja kotak-kotak Iwan, membuatku betah berlama-lama dalam dekapannya. Dan kereta pun terus melaju.

“Kamu tak perlu melakukan apapun, cukupkan saja dengan selalu ada di sampingku. Aku sudah cukup bahagia dengan kita seperti ini. Saling berbagi lewat cinta kita yang tertahan.” Lirihku di sela dekapannya yang semakin erat.

***

“Untuk Kekasihku,
 Sarah Viranti Laksamana

TANPA JUDUL
Entah ini rindu atau pilu
Tetapi keterasingan telah merajai jiwa
Merangkai asapun seolah sulit
Telah terpasung seluruhnya

Sarah, puisi ini kutulis setelah perjalanan di kereta yang kita tumpang itu. Masih lekat dalam ingatan, malam itu kita begitu menikmati rasa yang telah menggumuli jiwa kita. Dalam gerbong yang sunyi di kereta itu kita berpesta air mata. Ya, seperti kita yang selalu bersama mengepalkan tangan kala kita ngilu dengan namanya “Cinta” yang rajin menggelitik naluri. Aku tahu selama ini aku sangat konyol; mencintai wanita yang sudah bertunangan dengan lelaki lain pilihanmu, sejak dua tahun lalu. Barangkali hanya sebuah harapan kosong saja untuk memilikimu.

Sarah, seperti pada baris kedua pada puisi di atas; Tetapi keterasingan telah merajai jiwa. Walaupun selama ini kita selalu bersama, itu bukan berarti aku menjadi segalanya dalam hidupmu. Aku tak lebih dari orang asing yang tak kamu kenali, karena nada rindu yang berbunyi nyaring dalam hatiku tak pernah tersampaikan dengan baik pada muara cintamu.

Sarah, aku bukan tak ingin berlama-lama bersamamu menyaksikan keindahan bumi ini. Hidup bahagia bersamamu dalam istana yang kita bangun adalah satu-satunya harapan yang aku miliki selama ini. Tarlintas dalam benakku yang pada suatu malam engkau menyajikkan masakan lezat untuk makan malam kita berdua. Itu memang harapan sekaligus mimpiku. Doa yang selalu teriring dalam setiap himpitan sujud, doaku untuk kita.

Sarah, terimalah permohonan maafku. Di hari ulang tahunmu ini aku tak dapat hadir di sisimu dan memberi ucapan selamat serta memberikan kecupan kecil pada pipimu yang ranum. Tetapi percayalah, aku yakin kamu akan bahagia walau tanpaku. Sekali lagi terimalah permohonan maafku.

Sarah, jangan tanya keberadaanku sekarang di mana. Karena aku ada di mana-mana. Di samping, depan dan di belakangmu lewat rasa yang menjelma jika kamu memejamkan mata untuk sesaat. Aku memang terkesan seperti pembual, Sarah. Seperti yang telah kamu katakan padaku disaat aku berkata “Rembulan itu tetap tampil anggun walau selalu bertelanjang”.

Semoga malammu indah di sana, Sarah!
Selamat tinggal!
Salamku, Iwan.

Kulipat kembali surat dari Iwan dengan air mata tak terasa mengalir di pipi. Takdirku menunjukkan kepedihan seumur hidup.  Hatiku hancur berkeping-keping.

Bagaimana cerpen romantis yang berjudul Rembulan Tampak Anggun Walau Selalu Bertelanjang apa menghibur? Nah untuk kamu yang suka dengan cerpen bergenre horor jangan lupa baca juga cerpen horor yang berjudul Cerita Para Hantu Penghuni Rumah Bu Nani
LihatTutupKomentar
Cancel

Cancel

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel