Makalah Kesultanan Banten

Makalah Kesultanan Banten

Nangkring.net _  Sebagaimana kita ketahui bersama sebelum kemeredekaan Indonesia pada tahun 1945 Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak kerajaan, khususnya di Banten - Indonesia pada tahun 1526 awal mula terbentuknya kerajaan atau kesultanan Banten. Makalah Kesultanan Banten akan mengupas tuntas bagaimana mulainya terbentuk kerajaan atau kesultanan Banten tersebut.

Di bawah ini merupakan Makalah Kesultanan Banten yang meneliti sejarah teciptanya kerajaan atau kesultanan Banten sampai runtuhnya kesultanan tersebut.

Kesultanan Banten Agama dan kebudayaan islam  berpengaruh besar terhadap cara hidup, pola pikir, dan budaya Bangsa Indonesia. Dengan adanya pengaruh agama islam, kota-kota pantai tumbuh menjadi kerajaan-kerajaan. Perkembangan islam di indonesia ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan yang bercorak islam seperti Samudera Pasai, Aceh, Demak, Banten, Mataram, Gowa-Tallo (Makassar) Ternate, dan Tidore.

***

BAB 1
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Agama dan kebudayaan islam  berpengaruh besar terhadap cara hidup, pola pikir, dan budaya Bangsa Indonesia. Dengan adanya pengaruh agama islam, kota-kota pantai tumbuh menjadi kerajaan-kerajaan. Perkembangan islam di indonesia ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan yang bercorak islam seperti Samudera Pasai, Aceh, Demak, Banten, Mataram, Gowa-Tallo (Makassar) Ternate, dan Tidore.


B. Rumusan Masalah
  • Letak Kesultanan Banten
  • Sejarah Awal Terbentuknya Kesultanan Banten
  • Silsilah Raja-Raja Kesultanan Banten
  • Raja-Raja yang Terkenal
  •  Aspek Kehidupan Masyarakat Kesultanan Banten
  1. Aspek Kehidupan Politik
  2. Aspek Kehidupan Ekonomi
  3. Aspek Kehidupan Sosial
  4. Aspek Kehidupan Budaya
  • Puncak Kejayaan Kesultanan Banten
  • Masa Kemunduran Kesultanan Banten
  • Informasi Khusus mengenai Kesultanan Banten
  • Peninggalan Kesultanan Banten

***

BAB II
PEMBAHASAN


A. Letak Geografis Kesultan Banten

Secara geografis, Kesultanan Banten terletak di Jawa Barat bagian utara (sekarang Provinsi Banten) sampai ke Lampung di Sumatera. Kesultanan Banten terletak di wilayah Banten, di ujung barat Pulau Jawa.

B. Sejarah Awal Terbentuknya Kesultanan Banten

Kesultanan ini berawal sekitar tahun 1526 ketika Demak memperluas pengaruhnya dengan menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan dan menjadikannya pangkalan militer serta kawasan perdagangan. Pasukan Demak dipimpin oleh Fatahillah (Faletehan) menantu Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati) dan adik ipar Fatahillah yaitu Pangeran Sabakingking atau lebih sohor dengan sebutan Maulanan Hasanuddin.

Pada awalnya, kawasan Banten dikenal dengan nama Banten Girang yang merupakan bagian dari kerajaan Sunda (Pajajaran) yang bercorak Hindu. Kedatangan pasukan kerajaan dibawah pimpinan Fatahillah dan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk perluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwah Islam.

Karena dipicu oleh adanya kerjasama Sunda-Portugis dalam bidang ekonomi dan politik, hal ini dianggap dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas kekalahan mereka mengusir  Portugis dari Malaka tahun 1513. Atas perintah Sultan Trenggono, Fatahillah ditugaskan untuk melakukan penyerangan dan penaklukkan Pelabuhan Sunda Kelapa, tetapi sebelum menyerang Banten, konon Fatahillah terlebih dahulu berkonsolidasi dengan mertuanya Syarif Hidayatullah yang saat itu diberikan kekuasaan oleh Sultan Demak untuk memerintah Cirebon.

Pada 1522, pasukan Demak dan Cirebon bergabung menuju Banten dibawah pimpinan Fatahillah, Syarif Hidayatullah, dan Maulana Hasanuddin juga ikut serta dalam penyerangan tersebut, Fatahillah mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan, yakni Kesultanan Banten.

Pada tahun 1526 Banten berhasil direbut, termasuk Pelabuhan Sunda Kelapa yang waktu itu merupakan pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran, kemudian diganti namanya menjadi Jayakarta. Penguasaan atas Jayakarta berhasil menghambat gerak maju Portugis baik dari segi politis maupun ekonomis. Selanjutnya, pusat pemerintahan yang semula berkedudukan di Banten Girang dipindahkan ke Surosowan yang dekat pantai, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan hubungan antara pesisir Sumatera sebelah barat melalui Selat Sunda dan Selat Malaka. Pada masa itu Malaka telah jatuh dibawah kekuasaan Portugis, sehingga banyak pedagang yang mengalihkan jalur perdagangannya ke Sulat Sunda.

Atas penunjukkan sultan Demak, pada tahun 1526 Maulana Hasanuddin diangkat sebagai Adipati Banten. Pada tahun 1552, Banten diubah menjadi kerajaan vassal dari Demak, dengan Maulana Hasanuddin sebagai pemimpinnya.

Seiring kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Sultan Trenggana, Banten melepaskan diri dari vassal kerajaan Demak dan menjadi kesultanan yang mandiri. Kota Surosowan didirikan sebagai ibu kota atas petunjuk Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin menjadi sultan pertama, kendati demikian, Fatahillah tetap dianggap sebagai peletak dasar kesultanan Banten.

C. Silsilah Raja-Raja Kesultanan Banten

  1. Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570)
  2. Sultan Maulana Yusuf (1570-1580)
  3. Sultan Maulana Muhammad (1580-1596)
  4. Pangeran Ratu (1596-1651)
  5. Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672)
  6. Sultan Haji (1672-1686)
  7. Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690)
  8. Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)
  9. Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752)
  10. Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)
  11. Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)
  12. Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)
  13. Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)
  14. Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)
  15. Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
  16. Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
  17. Aliyuddin II (1803-1808)
  18. Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
  19. Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
  20. Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

D. Raja-Raja Yang Terkenal

1.  Maulana Hasanuddin
Maulana Hasanuddin berandil besar dalam meletakkan fondasi Islam di Nusantara hal ini dibuktikan dengan berbagai bangunan peribadatan seperti masjid dan sarana-sarana pendidikan Islam seperti pesantren. Ia juga dikenal sebagai sultan yang secara berkala mengirim mubaligh ke berbagai daerah yang telah dikuasainya. Pada masa jayanya, wilayah kekusaan Kesultanan meliputi Serang, Pandeglang, Lebak dan Tanggerang.

2. Maulana Yusuf
Ia melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukan Pakuan Pajajaran tahun 1579. Islam pun masuk ke wilayah pedalaman tersebut.

3. Pangeran Ratu
Sultan ini dikenal karena melakukan hubungan diplomasi dengan negara-negara lain termasuk dengan Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 dengan Charles I.

4. Sultan Ageng Tirtayasa
Pada masa pemerintahannya kesultanan Banten mengalami puncak kejayaaan. Banten semakin mengandalkan dan mengembangkan perdagangan. Monopoli atas lada di Lampung menempatkan Banten sebagai pedagang perantara dan salah satu pusat niaga yang penting. Banten menerapkan cukai atas kapal-kapal yang singgah Banten. Pemungutan ini dilakukan oleh Syahbandar yang berada di kawasan yang dinamakan Pabean.


E. Aspek Kehidupan Masyarakat Kesultanan Banten

1. Aspek Kehidupan Politik
Seiring kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Sultan Trenggono, Banten yang sebelumnya vassal (kerajaan bawahan) Demak melepaskan diri dan menjadi kesultanan yang mandiri.

Kota Surosowan didirikan sebagai ibu kota atas petunjuk Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin menjadi sultan pertama. Pada masa jayanya, wilayah kekuasaan Kesultanan Banten meliputi Serang, Pandeglang, Lebak, dan Tanggerang.

Banten semakin maju di bawah pemerintahan Sultan Hasanudin karena didukung oleh faktor-faktor berikut ini:
  • Letak Banten yang strategis terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Banten menjadi bandar utama karena dilalui jalur perdagangan laut.
  • Banten menghasilkan rempah-rempah lada yang menjadi perdagangan utama bangsa Eropa menuju Asia.

Penguasa Banten selanjutnya adalah Maulana Yusuf (1570-1580), putra Hasanuddin. Di bawah kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579 berhasil menaklukkan dan menguasai Kerajaan Pajajaran (Hindu). Akibatnya pendukung setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu daerah Banten Selatan, mereka dikenal dengan Suku Badui.

Maulana Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad (1580-1596). Pada akhir kekuasaannya, Maulana Muhammad menyerang Kesultanan Palembang. Dalam usaha menaklukkan Palembang, Maulana Muhammad tewas dan selanjutnya putra mahkotanya yang bernama Pangeran Ratu naik takhta. Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir.

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu yang bernama Abdul Fattah yang bergelar  Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682).Sultan Ageng mengadakan pembangunan, seperti jalan, pelabuhan, pasar, masjid yang pada dasarnya untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat Banten. Namun sejak VOC turut campur tangan dalam pemerintahan Banten, kehidupan sosial masyarakatnya mengalami kemerosotan.

Keadaan semakin memburuk ketika terjadi pertentangan antara Sultan Ageng dan Sultan Haji, putranya dari selir. Pertentangan ini berawal ketika Sultan Ageng mengangkat Pangeran Purbaya (putra kedua) sebagai putra mahkota. Pengangkatan ini membuat iri Sultan Haji. Berbeda dengan ayahnya, Sultan Haji memihak VOC. Bahkan, dia meminta bantuan VOC untuk menyingkirkan Sultan Ageng dan Pangeran Purbaya. Sebagai imbalannya, VOC meminta Sultan Haji untuk menandatangani perjanjian pada tahun 1682 yang isinya, antara lain, Belanda mengakui Sultan Haji sebagai sultan di Banten; Banten harus melepaskan tuntutannya atas Cirebon; Banten tidak boleh berdagang lagi di daerah Maluku.

Pada tahun 1683, Sultan Ageng tertangkap oleh VOC sedangkan Pangeran Purbaya dapat meloloskan diri. Setelah menjadi tawanan Belanda selama delapan tahun, Sultan Ageng wafat (1692). Adapun Pangeran Purbaya tertangkap oleh Untung Suropati, utusan Belanda, dan wafat pada tahun 1689.

2.  Aspek Kehidupan Ekonomi
Banten di bawah pemerintahan sultan ageng tirtayasa dapat berkembang menjadi bandar perdagangan dan pusat penyebaran agama islam. Adapun faktor-faktornya ialah:
  • letaknya strategis dalam lalu lintas perdagangan.
  • jatuhnya malaka ke tangan portugis, sehingga para pedagang islam tidak lagi singgah di malaka namun langsung menuju banten, banten mempunyai bahan ekspor penting yakni lada.

Pada masa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667 pekerjaan pengairan besar dilakukan untuk mengembangkan pertanian. Antara 30 dan 40 km kanal baru dibangun dengan menggunakan tenaga sebanyak 16.000 orang. Di sepanjang kanal tersebut, antara 30 dan 40 ribu hektar sawah baru dan ribuan hektar perkebunan kelapa ditanam. 30 000-anpetani ditempatkan di atas tanah tersebut, termasuk orang Bugis dan Makasar. Perkebunan tebu, yang didatangkan saudagar Cina pada tahun 1620-an, dikembangkan.

Banten yang menjadi maju banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari arab, gujarat, persia, turki, cina dan sebagainya. Di kota dagang banten segera terbentuk perkampungan-perkampungan menurut asal bangsa itu, seperti orang-orang arab mendirikan kampung pakojan, orang cina mendirikan kampung pacinan, orang-orang indonesia mendirikan kampung banda, kampung jawa dan sebagainya.

3. Aspek Kehidupan Sosial
Sejak banten di-islamkan oleh fatahilah (faletehan) tahun 1527, kehidupan sosial masyarakat secara berangsur- angsur mulai berlandaskan ajaran-ajaran islam.

Kehidupan sosial masyarakat banten semasa sultan ageng tirtayasa cukup baik, karena sultan memerhatikan kehidupan dan kesejahteran rakyatnya. Namun setelah sultan ageng tirtayasa meninggal, dan adanya campur tangan belanda dalam berbagai kehidupan sosial masyarakat berubah merosot tajam.

4. Aspek Kehidupan Budaya
Masyarakat yang berada pada wilayah Kesultanan Banten terdiri dari beragam etnis yang ada di Nusantara, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, dan Bali. Beragam suku tersebut memberi pengaruh terhadap perkembangan budaya di Banten dengan tetap berdasarkan aturan agama Islam. Pengaruh budaya Asia lain didapatkan dari migrasi penduduk Cina akibat perang Fujian tahun 1676, serta keberadaan pedagang India dan Arab yang berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Dalam bidang seni bangunan Banten meninggalkan seni bangunan Masjid Agung Banten yang dibangun pada abad ke-16. Selain itu, Kerajaan Banten memiliki bangunan istana dan bangunan gapura pada Istana Kaibon yang dibangun oleh Jan Lucas Cardeel, seorang Belanda yang telah memeluk agama Islam. Sejumlah peninggalan bersejarah di Banten saat ini dikembangkan menjadi tempat wisata sejarah yang banyak menarik kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri.

F.  Puncak Kejayaan Kesultanan Banten          

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Hal-hal yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa terhadap kemajuan Kerajaan Banten adalah sebagai berikut:
  1. Memajukan wilayah perdagangan. Wilayah perdagangan Banten berkembang sampai ke bagian selatan Pulau Sumatera dan sebagian wilayah Pulau Kalimantan.
  2. Banten dijadikan sebagai tempat perdagangan internasional yang mempertemukan pedagang lokal dengan para pedagang asing dari Eropa.
  3. Memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam sehingga banyak murid yang belajar agama Islam ke Banten.
  4. Melakukan modernisasi bangunan keraton dengan bantuan arsitektur Lucas Cardeel. Sejumlah situs bersejarah peninggalan Kerajaan Banten dapat kita saksikan hingga sekarang di wilayah Pantai Teluk Banten.
  5. Membangun armada laut untuk melindungi perdagangan. Kekuatan ekonomi Banten didukung oleh pasukan tempur laut untuk menghadapi serangan dari kerajaan lain di Nusantara dan serangan pasukan asing dari Eropa.

G.   Masa Kemunduran Kesultanan Banten

Kerajaan Banten mengalami kemunduruan berawal dari perselisihan antara Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji atas dasar perebutan kekuasaan. Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC dengan memihak kepada Sultan Haji. Kemudian Sultan Ageng bersama dua putranya yang lain bernama Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf terpaksa mundur dan pergi ke arah pedalaman Sunda. Namun, pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng berhasil ditangkap dan ditahan di Batavia. Dilanjutkan pada 14 Desember 1683, Syekh Yusuf juga berhasil ditawan oleh VOC dan Pangeran purbaya akhirnya menyerahkan diri.

Atas kemenangannya itu, Sultan Haji memberikan balasan kepada VOC berupa penyerahan Lampung pada tahun 1682. Kemudian pada 22 Agustus 1682 terdapat surat perjanjian bahwa Hak monopoli perdagangan lada Lampung jatuh kedatangan VOC. Sultan Haji meninggal pada tahun 1687.

Setelah meninggalnya Sultan Haji, VOC mulai mencengkramkan pengaruhnya di Kesultanan Banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten mesti mendapat persetujuan dari  Gubernur JendralHindia Belanda di Batavia. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya diangkat mengantikan Sultan Haji namun hanya berkuasa sekitar tiga tahun, selanjutnya digantikan oleh saudaranya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan  Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin dan kemudian dikenal juga dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten.

Perang saudara yang berlangsung di Banten meninggalkan ketidakstabilan pemerintahan masa berikutnya. Konfik antara keturunan penguasa Banten maupun gejolak ketidak puasan masyarakat Banten, atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Perlawanan rakyat kembali memuncak pada masa akhir pemerintahan SultanAbul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin, di antaranya perlawanan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa. Akibat konflik yang berkepanjangan Sultan Banten kembali meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa perlawanan rakyatnya sehingga sejak 1752 Banten telah menjadi vassal dari VOC.

H.   Informasi Khusus Mengenai Kesultanan Banten

1. Penghapusan Kesultanan Banten
Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon. Sultan menolak perintah Daendels, sebagai jawabannya Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganya disekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda.

Kesultanan Banten resmi dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu,Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun tahta olehThomas Stamford Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang mengakhiri riwayat Kesultanan Banten.

I. Peninggalan Kesultanan Banten         

Peninggalan tersebut ada yang masih utuh namun banyak yang tinggal reruntuhannya saja bahkan tidak sedikit yang berupa fragmen-fragmen kecil. Peninggalan berupa artefak –artefak kecil yang dikumpulkan dalam penelitian dan penggalian kepurbakalaan kini telah disimpan di Museum Situs Kepurbakalaan yang terletak di halaman depan bekas Keraton Surosowan.
Peninggalan kepurbakalaan tersebut adalah:
  1. Komplek Keraton Surosowan
  2. Komplek Masjid Agung
  3. Meriam Ki Amuk
  4. Masjid Pacinan Tinggi
  5. Komplek Keraton Kaibon
  6. Masjid Koja
  7. Kerkhof
  8. Benteng Spelwijk
  9. Klenteng Cina
  10. Watu Gilang
  11. Makam Kerabat Sultan
  12. Masjid Agung Kenari
  13. Benda-benda purbakala di Museum Banten
  14. Danau Kasikardi
  15. Pengindelan Emas
***

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Jadi, kesimpulannya Kerajaan Banten pada waktu dulu  dikuasai  oleh Fatahilah (panglima perang demak).  Banten masih tetap menjadi daerah kekuasaan  Demak, namun setelah terjadi kegoncangan politik akibat perebutan kekuasaan, banten akhirnya melepaskan diri.

Dan akhirnya kerajaan banten masa pemerintahannya itu dilakukan oleh orang-orang yang akan memajukan pemerintahan di Kerajaan Banten tokohnya yaitu Hasanuddin, Panembahan  Yusuf,  Maulana  Muhammad,  Sultan  Ageng  Tirtayasa. Mereka adalah orang-orang yang memimpin masa pemerintahan, sehingga kerajaan banten memperbaiki masa pemerintahannya.

B. Saran

Kami ucapkan terima kasih  bagi  yang  telah membaca  Makalah Kesultanan Banten ini.  Kami  merasa bahwa dalam Makalah Kesultanan Banten ini  masih  banyak  kekurangan  dan  kami  mengharap  Kritik  dan Saran dari  pembaca,  demi  kesempurnaan  Makalah Kesultanan Banten ini.
***

Demikian Makalah Kesultanan Banten semoga dapat membantu pemahaman dan menambah pengetahahuan Anda mengenai Kesultanan Banten di Indonesia, untuk kekurangan dan kelengkapan makalah ini bisa Anda tambahkan pada kolom komentar.
LihatTutupKomentar
Cancel

Cancel

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel