Makalah Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw

Makalah Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw merupakan karya ilmiah penelitian guru terhadap kemampuan berkomunikasi siswa SMP. Untuk lebih jelasnya mari kita simak uraian lengkap Makalah Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw di bawah ini.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TYPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI DAN HASIL BELAJAR PKN

KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat   Allah SWT, atas segala karunia dan ridho-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TYPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI DAN HASIL BELAJAR PKN"

Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan informasi beberapa temuan yang telah diperoleh sehingga dapat dijadikan bahan kajian rekan-rekan guru dalam menyampaikan bahan pelajaran PKn, khususnya dalam materi Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi Pertama Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan moral dan materil yang diberikan dalam penyusunan makalah ini, maka penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:

  1. Bapak Mulyadi, S.Pd., M.M.Pd, selaku kepala SMPN 1 Wanasalam, yang memberikan bimbingan, saran, dan motivasi.
  2. Rekan kerja Dewan Guru SMPN 1 Wanasalam, yang telah memberikan dukungan dan doa. 

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki bebagai kekurangan. Namun demikian, penulis mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Peneliti,

Rohanah, M.Pd.
NIP. 198206072009022004

***

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

***

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Keberhasilan program pendidikan melalui pembelajaran di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: siswa, kurikulum, tenaga kependidikan, biaya, sarana dan prasarana serta faktor lingkungan. Apabila faktor-faktor tersebut dapat terpenuhi sudah tentu akan memperlancar pembelajaran yang akan menunjang pencapaian hasil belajar yang maksimal yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, antara lain dengan perbaikan mutu pembelajaran. Dengan adanya perencanaan yang baik akan mendukung keberhasilan pengajaran. Usaha perencanaan pengajaran diupayakan agar peserta didik memiliki kemampuan maksimal dan meningkatkan motivasi, tantangan dan kepuasan sehingga mampu memenuhi harapan baik oleh guru sebagai pembawa materi maupun peserta didik sebagai penggarap ilmu pengetahuan.

Salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran, perlu pemahaman ulang. Mengajar tidak sekedar mengomunikasikan pengetahuan agar dapat belajar, tetapi mengajar juga berarti usaha menolong pemelajar agar mampu memahami konsep-konsep dan dapat menerapkan konsep yang dipahami.

Pendidikan adalah proses mempersiapkan generasi yang akan datang agar memiliki bekal ilmu pengetahuan untuk meneruskan pembangunan. negara ini  dan sekaligus sebagai bentuk alih generasi. Mempersiapkan generasi merupakan sebuah rencana besar yang akan menggambarkan baik buruknya suatu  bangsa  akan terlihat dari  bagaimana proses pendidikannya pada saat ini.

Mempersiapkan generasi yang berkualitas diperlukan proses pembelajaran yang baik yang mudah dimengerti dan dipahami oleh peserta didik, sehingga mereka memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk membekali dirinya dalam menjalani proses kehidupan baik kehidupan pribadi maupun kehidupan bernegara, sebab kualitas sumber daya manusia yang baik akan menopang kualitas sebuah negara.

Proses pembelajaran yang baikadalah proses pembelajaran yang melibatkan semua komponen pembelajaran atau dengan kata lain terjadi interaksi eduktaif antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Interaksi  Belajar Mengajar  adalah suatu kegiatan yang bernilai  edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan peserta didik. Dikatakan bernilai edukatif karena kegiatan belajar mengajar yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelum pembelajaran  dilakukan.

Dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), kadangkala peserta didik merasa jenuh, sebab siswa dihadapkan materi-materi yang lebih banyak dikemukakan oleh guru, sedangkan siswa hanya sebagai pendengar saja, hal ini menyebabkan anak merasa jenuh dan bosan. Pada akhirnya anak kurang memperhatikan, sebab metode yang lebih banyak dikembangkan oleh guru adalah metode ceramah tanpa banyak melibatkan siswa.

Dalam Permendiknas No.22 tahun 2006, Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan  memperoleh pemahaman  yang lebih luas dan mendalam  pada bidang ilmu yang berkaitan.
Winataputra (2001:51) mengemukakan bahwa ada tiga dimensi PKn, yakni: (1) PKn sebagai program kurikuler; (2) PKn sebagai program akademik; dan (3) PKn sebagai program sosial kultural. Dalam pelaksanaan program, tiga dimensi ini dapat saja terjadi secara simultan atau secara bersamaan (overlaping), khususnya dalam mencapai tujuan umum, yakni membentuk warga negara yang cerdas dan baik. Khusus untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tujuan PKn dapat dilihat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bagian Penjelasan Pasal 37 ayat (1) bahwa “Pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.” Sangat jelas dan nyata bahwa pendidikan PKn memiliki nilai dan pesan yang amat besar yang wajib oleh siswa sejak usia dini pun dipahami dan dihayati sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam dimensi tujuan pendidikan PKn dapat melekat dan dilaksanakan sejak kecil sehingga melahirkan generasi-generasi yang memiliki moral yang baik. Hal ini tentu tidak seimbang dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah-sekolah. Guru lebih banyak mendominasi proses pembelajaran.

Iklim pembelajaran yang dikembangkan oleh guru mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan dan kegairahan belajar, demikian pula kualitas dan keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran.

Melihat uraian di atas bahwa ternyata mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan sangat penting bagi siswa untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat serta diharapkan dapat  memecahkan permasalah-permasalahan yang dihadapi siswa dimasyarakat. Selain itu dalam  pembelajaran PKn, terutama dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), siswa diharapkan dapat saling menghormati dengan sesama.

Jika pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kurang melibatkan siswa, dikhawatirkan tujuan pembelajaran  Pendidikan Kewarganegaraantidak akan tersampaikan secara utuh  yang  pada akhirnya tujuan pembelajaran  tidak akan tercapai dengan baik. Oleh sebab itu perlu dibangun suatu interaksi belajar yang dapat memberikan kesempatan  terhadap siswa untuk berinteraksi satu sama lain yang akan  membentuk komunitas yang memungkinkan siswa untuk mencintai proses belajar dan mencintai satu sama lain.

Capaian nilai Pendidikan Kewarganegaraanselama ini cenderung kurang memuaskan. Hal ini diakibatkan proses pembelajaran yang kurang melibatkan siswa, yang pada akhirnya siswa tidak tertarik untuk ikut larut dalam proses pembelajaran, akibatnya nilai yang dimiliki oleh siswa rendah.
Bukti kemerosotan nilai belajar siswa pada mata pelajaran PKn terlihat dari rendahnya nilai rata-rata Ujian Tengah  Semester (UTS), Tidak tercapainya Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 70 (tujuh puluh) pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Menjadi sebuah indikator bahwa nilai Pendidikan Kewarganegaraan lebih rendah diperoleh dari pada mata pelajaran lain.

Diharapkan dengan diterapkannya  model pembelajaran Type Jigsaw dapat menyelesaikan masalah pembelajaran PKn sekitar 60% di SMPN I Wanasalam.Kondisinya adalah beberapa siswa mengalami kesulitan dalam menjawab soal dan siswa yang dapat menjawab pun kurang atau tidak mau memberikan penjelasan kepada siswa lain yang belum mengerti. Terlebih lagi guru jarang memberikan soal-soal latihan. Guru hanya menjelaskan materi dan membuat rangkuman. Oleh karena itu jika siswa diberi soal-soal latihan mereka tidak bisa menjawab. Yang bisa mereka jawab hanya soal-soal yang sama persis dengan yang dicontohkan oleh guru. Diduga model pembelajaran yang digunakan selama ini belum efektif. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya hasil belajar PKn siswa khususnya siswa kelas VII A SMP Negeri I Wanasalam Kabupaten Lebak pada materi Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi Pertama.

Berdasarkan latar belakang masalah maka diberikan suatu tindakan alternatif untuk mengatasi  masalah yang ada berupa penerapan model pembelajaran yang lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensinya secara maksimal. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif tumbuh dari suatu tradisi pendidikan yang menekankan berpikir dan latihan bertindak demokratis, pembelajaran aktif, perilaku kooperatif, dan menghormati perbedaan dalam masyarakat multibudaya. Dalam pelaksanaannya pembelajaran kooperatif dapat merubah peran guru dari peran terpusat pada guru ke peran pengelola aktivitas kelompok kecil. Sehingga dengan demikian peran guru yang selama ini monoton akan berkurang dan siswa akan semakin terlatih untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, bahkan permasalahan yang dianggap sulit sekalipun.

Beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan model pembelajaran kooperatif menyimpulkan bahwa model pembelajaran tersebut dengan beberapa tipe, di antaranya  Numbered HeadTogether (NHT), Team games Tournament (TGT), telah memberikan masukan yang berarti bagi sekolah, guru dan terutama siswa dalam meningkatkan hasil belajar. Salah satu tipe pembelajaran kooperatif tersebut  melalui pendekatan struktural type Jigsaw.

Dalam pembelajaran tipe Jigsaw , siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri 5 anggota. Setiap kelompok diberi informasi yang membahas salah satu topik dari materi pelajaran mereka saat itu. Dari informasi yang diberikan pada setiap kelompok ini, masing-masing anggota harus mempelajari bagian-bagian yang berbeda dari informasi tersebut. Perkumpulan siswa yang memiliki bagian informasi yang sama ini dikenal dengan istilah “kelompok ahli” (expert group). Dalam “ kelompok ahli” ini, masing-masing siswa berdiskusi dan mencari cara terbaik  bagaimana menjelaskan informasi kepada teman-teman satu kelompoknya yang semula, setelah diskusi selesai, semua siswa dalam “kelompok ahli” ini kembali kekelompoknya yang semula, dan masing-masing dari mereka mulai menjelaskan bagian infonrmasi tersebut kepada teman-teman satu kelompoknya.

Jadi, dalam metode Jigsaw, siswa bekerja kelompok selama dua kali, yakni dalam kelompok mereka sendiri dan dalam “kelompokahli”.Setelah masing-masing anggota menjelaskan bagiannya masing-masing kepada teman-temansatu kelompoknya, mereka mulai siapun utuk diuji secara individu (biasanya dengan kuis). Guru memberikan kuis kepada setiap anggota kelompok untuk dikerjakan sendiri-sendiri tapa bantuan siapapun. skor yang diperoleh setiap anggota dari hasil ujain/kuis individu ini akan menentukan skor yang diperoleh kelompok mereka.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan di atas, rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah.

  1. Bagaiamana penerapan model pembelajaran CoopertativeLearningtypeJigsaw dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn di kelas VII A SMP Negeri I Wanasalam?
  2. Apakah  penerapan model pembelajaran CooperativeLearningtypeJigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn di kelas VII A SMP Negeri I Wanasalam?
  3. Apakah penerapan model pembelajaran CooverativeLearningType Jigsaw dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pkn di kelas VII A  SMPN I Wanasalam pada pokok bahasan Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi Pertama?


C. Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian dalam makalah  ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Cooperative Learning  type Jigsaw,dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi siswa pada mata pelajaran PKn di kelas VII A SMP Negeri I Wanasalam.
  2. Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Cooperative Learningtype Jigsaw,  dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn di kelas VII A SMP Negeri I Wanasalam.
  3. Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Cooperative LearningtypeJigsaw,  dapat meningkatkan Keterampilan Berkomunikasi dan Hasil belajar PKn siswa pada pokok bahasan Prolamasi dan Konstitusi Pertama.  


D. Manfaat Penulisan Makalah

Makalah ini diharapkandapat memperkaya khasanah media pembelajaran khususnya pada mata pelajaran PKn Kelas VII.

***

BAB II
PEMBAHASAN


A. Model Pembelajaran

Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Model dapat dipahami sebagai berikut.
  1. Suatu tipe atau desain 
  2. Suatu deskripsi atau analogi yang dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak dapat langsung diamati.
  3. Suatu sistem asumsi-asumsi , data-data, dan inferensi-inferensi yang dipakai untuk menggambarkan secara sistematis suatu objek atau peristiwa.
  4. Suatu desain yang disederhanakan dari suatu sistematis yang mungkin atau imajiner
  5. Penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan menunjukan sifat bentuk aslinya (Komarudin, 2000:152 di dalam Syaiful, Sagala, 2003:175)

Menurut Joyce (2009:385) Model Pembelajaran adalah sebuah rencana atau pola yang dapat digunakan untuk mendesain materi pembelajaran, memandu pembelajaran kelas dan setting lainnya.
Atas dasar pengertian tersebut, maka model pembelajaran dapat dipahami sebagai kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukis prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu  dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Jadi model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas agar tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan cara yang efektif  dan efisien.

B. Ciri-ciri Model Pembelajaran 

Menurut Rusman, (2011:136) model-model pembelajaran memiliki ciri-ciri seabagai berikut.
1. Model pembelajaran didasarkan pada teori pedidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.
2. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu
3. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar dikelas
4. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan:
  • Urutan langkah-langkah pembelajaran (syntaks)
  • Adanya prinsip-prinsip reaksi
  • Sistem sosial
  • Sistem pendukung
5. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak tersebut meliputi:
  • Dampak pembelajaran yaitu hasil belajar yang dapat diukur
  • Dampak pengiring yaitu hasil belajar jangka panjang
6. Membuat persiapan mengajar (desain isntruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.

Hal ini sejalan dengan pendapat Trianto, (2011:23) bahwa model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi metode atau prosedur.

Ciri-ciri tersebut adalah:
  1. Rasional Teoretis Logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya 
  2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai)
  3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil
  4. Lingkungan belajar tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil
  5. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

C. Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Pembelajaran

Sebelum menentukan model pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, pertimbangan-pertimbangan yang harus dilakukan guru dalam memilihnya adalah:
  1. Pertimbangan terhadap tujuan yang hendak dicapai
  2. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan /materi  pembelajaran
  3. Pertimbangan dari sudut peserta didik atau siswa
  4. Pertimbangan lain yang bersifat non teknis

Arend dalam Trianto, (2011:25) menyatakan bahwa terdapat enam model pengajaran yang sering dan praktis digunakan guru dalam mengajar yaitu: presentasi, pengajaran langsung, pengajaran konsep, pembelajaran kooperatif, pengajaran berdasarkan masalah dan diskusi kelas.

Namun Arend dan para pakar model pembelajaran berpendapat lain bahwa tidak ada satu model pembelajaran yang paling baik di antara yang lainnya karena masing-masing model pembelajaran memilki keurangan dan kelebihan masing-masing.

Dalam implementasinya di lapangan, model-model pembelajaran diatas bisa diterapkan secara sendiri-sendiri dan dapat juga merupakan gabungan dari beberapa model tersebut sesuai denga sifat dan karakteristik dari materi yang dipelajari.


D. Model Cooperative Learning

Pembelajaran kooperatif dilandasi oleh  teori konstruktivisme. Model pembelajaran ini dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky. Menurut pendapat Rusman (2011:201-202) dalam model pembelajaran kooperatif, guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak hanya memberi pengetahuan kepada siswa, tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan ide-ide mereka, ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. 


E. Model  Cooperatif Learning Type Jigsaw

Ada beberapa model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh para ahli.  Beberapa model yang telah dikembangkan oleh para ahli diantaranya model Jigsaw, Numbered Head Together (NHT),Investigasi Kelompok (Group Investigation), Make a Match (Membuat Pasangan), TGT (Teams Games Tournament), struktural dan lain-lain. Dari banyaknya model pembelajaran kooperatif tersebut, penulis memilih model pembelajaran  kooperatif typeJigsaw untuk diterapkan dalam penelitian tindakan ini.

Metode Jigsaw Pertama kali dikembangkan oleh Aronson (1975). Metode ini memiliki dua versi tambahan, Jigsaw II (Slavin, 1989) dan Jigsaw III (Kagan, 1990). Dalam metode Jigsaw, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri 5 anggota. Setiap kelompok diberi informasi yang membahas salah satu topik dari materi pelajaran mereka saat itu. Dari informasi yang diberikan pada setiap kelompok ini, masing-masing anggota harus mempelajari bagian-bagian yang berbeda dari informasi tersebut. Perkumpulan siswa yang memiliki bagian informasi yang sama ini dikenal dengan istilah “kelompok ahli” (expert group). Dalam “ kelompok ahli” ini, masing-masing siswa berdiskusi dan mencari cara terbaik  bagaimana menjelaskan bagian informasi kepada teman-teman satu kelompoknya yang semula, setelah diskusi selesai, semua siswa dalam “kelompok ahli” ini kembali kekelompoknya yang semula, dan masing-masing dari mereka mulai menjelaskan bagian infonrmasi tersebut kepada teman-teman satu kelompoknya.

Jadi, dalam metode Jigsaw, siswa bekerja kelompok selama dua kali, yakni dalam kelompok mereka sendiri dan dalam “kelompok ahli”. Setelah masing-masing anggota menjelaskan bagiannya masing-masing kepada teman-teman satu kelompoknya, mereka mulai siap untuk diuji secara individu (biasanya dengan kuis). Guru memberikan kuis kepada setiap anggota kelompok untuk dikerjakan sendiri-sendiri tapa bantuan siapapun. Skor yang diperoleh setiap anggota dari hasil ujian/kuis individu ini akan menentukan skor yang diperoleh kelompok mereka.

Langkah-langkah dalam penerapan TypeJigsaw adalah sebagai berikut:
  1. Guru membagi satu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang berbeda, kelompok ini disebut dengan kelompok asal.
  2. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
  3. Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali pada kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aranson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran,maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa.
  4. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli.
  5. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik pada kelompok ahli maupun kelompok asal.
  6. Setelah siwa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya di lakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilkukan, agar guru dapat menyamakan presepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
  7. Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual
  8. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.
  9. Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
  10. Perlu  diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu disiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Adapun langkah-langkah menerapkan type Jigsaw menurut Melvin L. Siberman (2012:180) untuk mempermudah melakukan typejigsaw secara mandiri menerapkannya. Sebagian besar guru memilki pengetahuan yang cukup tentang type ini, namun belum mencoba untuk menerapkannya karena belum yakin terampil melaksanakan pembelajaran dengan type tersebut. Menyikapi kondisi seperti itu, dipandang perlu untuk menyusun panduan praktis menerapkan type ini terutama untuk menerapkan inisiatif siswa mengembangkan pengetahuannya secara mandiri serta mengintegrasikan pemahaman beberapa konsep melalui kegiatan pada satu waktu yang dieksplorasi oleh siswa secara mandiri. Prosedur penerapannya melalui delapan langkah-langkah type Jigsaw sebagai berikut.

1) Langkah Pertama
Guru merencanakan pembelajaran yang akan menghubungkan beberapa konsep dalam satu rentang waktu secara bersamaan. Misalnya, pada mata pelajaran PKn di SMP, siswa akan mempelajari Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi Pertama. Konsep yang akan siswa pelajari: (1) Ciri-ciri perjuangan Bangsa Indonesia sebelum dan sesudah tahun 1908, (2) Penderitaan rakyat pada masa penjajahan, (3) faktor yang menjadi pemicu rakyat Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya, (4) Arti Kemerdekaan bagi suatu bangsa, (5) Pentingnya pewarisan semangat proklamasi kemerdekaan, (6) Peristiwa Rengas Dengklok dan perumusan naskah proklamasi. Tentu saja perlu menyiapkan RPP dengan menerapkan typeJigsaw.

2) Langkah Kedua
Siapkan handout materi pelajaran untuk masing-masing konsep sehingga guru memiliki enam handouts tentang 1) Ciri-ciri perjuangan Bangsa Indonesia sebelum dan sesudah tahu 1908, (2) Penderitaan rakyat pada masa penjajahan, (3) faktor yang menjadi pemicu rakyat Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya, (4) Arti Kemerdekaan bagi suatu bangsa, (5) Pentingnya pewarisan semangat proklamasi kemerdekaan, (6) Peristiwa Rengas Dengklok dan perumusan nasah proklamasi.

3) Langkah Ketiga
Guru menyiapkan kuis sebanyak enam jenis sesuai materi yang akan siswa pelajari.

4) Langkah Keempat
Bagilah kelas dalam enam kelompok. Guru menyampaikan pengantar diskusi kelompok dengan menjelaskan secara sangat singkat (1) topik yang akan dipelajari masing-masing kelompok, (2) tujuan dan indikator belajar yang diharapkan , (3) bentuk tagihan tiap kelompok, (4) prosedur kegiatan, (5) sumber belajar yang dapat digunakan siswa. Diskusi dimulai, siswa aktif mempelajari materi, guru menjadi pemantau dan fasilitator.

Masing-masing kelompok bersiap untuk mempelajari enam konsep yang telah ditentukan. Tiap kelompok terbagi dalam sub kelompok masing-masing mempelajari satu handouts. Pada saat diskusi setiap sub kelompok mendalami satu konsep dan sub kelompok lain untuk memahaminya. Kelompok ini dalam bahasa Inggris disebut home groups, istilah itu dapat diterjemahkan secara bebas.

Pada bagian akhir sesi ini setiap kelompok mendalami satu konsep agar dapat menyampaikan materi kepada sub kelompok lain. Setelah memenuhi target waktu dan berdasarkan pemantauan guru siswa telah cukup memahami materi maka diskusi ditutup sementara.

5) Langkah Kelima
Setiap sub kelompok mendalami materi pada handout yang menjadi pegangannya. Mendalami fakta, konsep dan prtosedur penerapan konsep agar ilmu yang mereka pelajari dapat mereka sampaikan kembali kepada teman-temannya. Pada fase ini tidak ada interaksi antar sub kelompok. Kegiatan refleksi ini merupakan proses peningkatan penguasaan materi untuk menghadapi babak diskusi tim ahli.

6) Langkah Keenam
Setiap sub kelompok yang ahli mengenai konsep ke-1 bergabung dengan yang ahli konsep ke-2, ke-3 dan seterusnya sehingga membentuk struktur kelompok ahli.

Pada langkah ini siswa kembali berdiskusi. Tiap kelompok membahas satu handout materi yang menjadi bidang keahliannya. Di sini terdapat masa kritis yang perlu guru pantau pada tiap kelompok, memastikan bahwa konsep yang siswa kembangkan sesuai dengan yang seharusnya atau tidak mengandung kekeliruan.

7) Langkah Ketujuh
Selesai mendalami materi melalui diskusi kelompok ahli, siswa kembali ke kelompok awal atau kelompok belajar. Hasil dari diskusi pada kelompok ahli dibahas kembali dalam kelopok awal. Pada tahap akhir kegiatan belajar setiap sub kelompok menyampaikan hasil diskusi pada kelompok ahli. Dengan cara ini seluruh siswa mengulang telaah seluruh materi yang harus dikuasainya. Setiap anggota kelompok memiliki catatan hasil diskusi pada tahap satu, tahap dua diskusi tim ahli dan kembali ke kelompok semula.

1) Langkah Kedelapan
Beberapa hal yang dapat menjadi kendala aplikasi type ini di lapangan yang harus kita cari jalan keluarnya, menurut Roy Killen (1996) dalam Suyadi (2013:78), adalah:

Prinsip utama pola pembelajaran ini adalah “peer teaching” pembelajaran oleh teman sendiri, akan menjadi kendala karena perbedaan presepsi dalam memahami suatu konsep yang akan didiskusikan bersama dengan siswa lain.
  • Dirasa sulit untuk meyakinkan siswa untuk mampu berdisksusi menyampaikan materi pada teman, jika siswa tidak memiliki rasa kepercayaan diri.
  • Rekod siswa tentang nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah dimilki oleh pendidik dan ini biasanya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenali tipe-tipe siswa dalam kelompok tersebut.
  • Awal penggunaan tipe ini biasanya sulit dikendalikan, biasanya membutuhkan waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum tipe pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik.
  • Aplikasi ini pada kelas yang besar  (lebih dari 35 siswa) sangatlah sulit, tapi bisa dibatasi dengan tipe team teaching. 

Agar pelaksanaan type jigsaw dapat berjalan dengan baik, maka upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
  • Guru senantiasa mempelajari tekhik-tekhnik penerapan model pembelajaran tipe jigsaw di kelas dan menyesuaikan degan materi yang akan diajarkan.
  • Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas merupakan kelas heterogen.
  • Diadakan sosilaisasi dari pihak terkait dalam penerapan type jigsaw.
  • Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama sumber belajar. Mensosialisasikan kepada sisswa akan pentingnya sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

Adapun untuk lebih jelasnya tentang kelebihan dan kelemahan type jigsaw dapat dijelaskan sebagai berikut ini.

1). Kelebihan typeJigsaw
  • Dapat menambah kepercayaan siswa akan kemampuan berfikir kritis
  • Setiap siswa akan memiliki tanggung jawab akan tugasnya
  • Mengembangkan kemampuan siswa mengungkapkan ide atau gagasan dalam memecahkan masalah tanpa takut membuat salah
  • Dapat meningkatkan kemampuan sosial, yaitu mengembangkan rasa harga diri dan hubungan interpersonal yang positif.
  • Waktu pelajaran lebih efektif dan efisien
  • Dapat berlatih berkomunikasi dengan baik.

2) Kelemahan typeJigsaw
  • Prinsip utama pembelajaran ini adalah  “peerteaching” yaitu pembelajaran oleh teman sendiri. Ini akan menjadi kendala karena presepsi dalam memahami suatu konsep yang akan didiskusikan bersama dengan siswa lain. Dalam hal ini pengawasan guru menjadi hal yang mutlak diperlukan agar jangan sampai terjadi salah konsep (miss conseption).
  • Dirasa sulit meyakinkan siswa untuk mampu berdiskusi menyampaikan materi pada teman, jika siswa tidak percaya diri, pendidik harus mampu memainkan perannya dalam memfasilitasi kegiatan belajar.
  • Rekod siswa tentang nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah dimiliki oleh pendidik dan ini biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenali tipe-tipe sisswa dalam kelas tersebut.
  • Awal pembelajaran ini biasanya sulit untuk dikendalikan, biasanya butuh waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum tipe pembelajaran ini dapat berjalan dengan baik.
  • Aplikasi tipe ini pada kelas yang besar (>40 siswa) sangat sulit.
  • Sulit bagi siswa yang pendiam untuk mendapatkan kesempatan berbicara dalam forum diskusi kelas. 

F. Keterampilan berkomunikasi

Komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu pesan atau pembawa pesan ke penerima pesan untuk memberi tahu, pendapat atau perilaku baik langsung secara lisan atau tak langsung melalui media.

Komunikasi juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan mentransfer informasi dari satu tempat ke tempat lain. Meskipun ini adalah sebuah definisi komunikasi sederhana, ketika kita berpikir tentang bagaimana kita dapat berkomunikasi dapat menjadi jauh lebih kompleks. Ada berbagai kategori mengenai komunikasi, dan hal tersebut dapat terjadi setiap saat. Kategori komunikasi tersebut diantaranya:
  1. Komunikasi lisan atau verbal: tatap muka, telepon, radio atau televisi atau media lainnya. 
  2. Komunikasi non-verbal: bahasa tubuh, gerak tubuh, bagaimana kita berpakaian atau bertindak.
  3. Komunikasi tertulis: surat, e-mail, buku, majalah, internet atau melalui media lainnya.
  4. Visual: grafik, diagram, peta, logo dan visualisasi lain yang dapat digunakan untuk berkomunikasi.

Teori Komunikasi menyatakan bahwa komunikasi melibatkan pengirim (sender) dan penerima (receiver) menyampaikan informasi melalui saluran komunikasi. Pengirim dan penerima tentu saja penting dalam komunikasi. Dalam komunikasi tatap muka peran pengirim dan penerima tidak sejelas kedua belah pihak berkomunikasi satu sama lain, bahkan jika dengan cara yang sangat halus seperti melalui kontak mata (atau kurangnya) dan bahasa tubuh secara umum. Ada banyak cara halus lain yang kita dapat lakukan untuk berkomunikasi (bahkan mungkin tidak sengaja) dengan orang lain, misalnya nada suara kita dapat memberikan petunjuk untuk suasana hati kita atau keadaan emosional, sementara sinyal tangan atau gerakan dapat menambah pesan lisan. Dalam komunikasi tertulis, pengirim dan penerima yang lebih jelas. Hari ini kita semua dapat menulis dan mempublikasikan ide-ide di Internet, yang telah menyebabkan ledakan informasi dan komunikasi.

Menurut Webster New Collogiate Dictionary (dalam Riswandi 2009:1), komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi diantara individu melalui sistem, lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku. Pendapat ini menjelaskan bahwa antara satu individu dengan individu yang lainnya membutuhkan komunikasi untuk bertukar informasi, pertukaran informasi itu dapat berupa komunikasi verbal maupun non verbal.

Berikut ini adalah definisi tentang komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut:

1. Carl Hovland
Komunikasi adalah suatu proses melalui di mana seseorang komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membetuk prilaku orang-orang lain memberikan penekanan bahwa tujuan komunikasi adalah mengubah dan membentuk prilaku.

2. Bernard Berelson & Gary A. Steiner
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi keahlian, dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, angka-angka dan lain-lain. Menekankan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian, yaitu penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain.

3. Harold Laswell
Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaaskan “siapa” mengatakan “apa” “dengan saluran apa”, kepada “siapa” dan “dengan akibat apa”atau “hasil apa”. (Who says what in which channel to whom and with what effect). Menunjukan bahwa komunikasi itu adalah suatu upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan.

Dari pendapat para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam konteks pembelajaran komunikasi merupakan sarana penting bagi seorang guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran, di mana guru akan membangun pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan. Melalui komunikasi guru sebagai sumber menyampaikan informasi, yang dalam konteks pembelajaran adalah materi pelajaran, kepada penerima yaitu siswa dengan menggunakan simbol-simbol baik lisan, tulisan dan bahasa non verbal. Sebaliknya siswa akan menyampaikan berbagai pesan sebagai respon kepada guru sehingga terjadi komunikasi dua arah guna meningkatkan keberhasilan komunikasi  untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri siswa.

Menurut Semiawan (1992) komunikasi ilmiah dapat dilakukan secara verbal (lisan) maupun dengan non verbal (tulisan). Berkomunikasi secara verbal dapat dilakukan dengan cara mengadakan seminar atau mengundang orang lain untuk menyampaikan ide-idenya sehingga orang lain dapat memberikan penilaian atau menanggapinya. Secara non verbal dapat dilakukan dengan membuat laporan hasil penelitian yang memuat data-data, gambar, grafik atau sejenisnya dalam rangka mendukung hasil yang didapat sehingga dapat dibaca oleh orang lain.

Indikator yang terdapat pada kompetensi komunikasi ilmiah antara lain: membuat dan menafsirkan tabel, menerapkan konsep, membuat dan menafsirkan grafik serta menyimpulkan. Laporan kegiatan praktikum dapat berfungsi sebagai cara untuk mengembangkan kompetensi komunikasi ilmiah. Keterampilan berkomunikasi ilmiah juga meliputi: menyusun dan menyampaikan laporan secara sistemik dan jelas, menjelaskan hasil percobaan, mendiskusikan hasil percobaan, mengklasifikasikan data dan menyusun data serta menggambarkan data dalam grafik, tabel atau diagram (Karso dkk, 1994:193). Grafik adalah diagram yang menggambarkan hubungan antara dua atau lebih besaran kuantitatif (Encarta, 2006, Liengme, 2003:94). Grafik atau diagram XY merupakan bentuk diagram yang paling banyak digunakan ilmuwan atau insinyur (Liengme, 2003:93). Kemampuan menggambarkan grafik merupakaan salah satu indikator kemampuan berkomunikasi ilmiah.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa berkomunikasi secara ilmiah mencakup beberapa hal diantaranya:
  1. Sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu pesan atau pembawa pesan ke penerima pesan untuk memberi tahu, pendapat atau perilaku baik langsung secara lisan atau tak langsung melalui media
  2. Sebagai suatu tindakan mentransfer informasi dari satu tempat ke tempat lain
  3. Proses menyampaikan hasil pengamatan yang berhasil dikumpulkan atau menyampaikan hasil penyelidikan
  4. Proses menghimpun informasi dari grafik atau gambar yang menjelaskan benda-benda serta kejadain- kejadian secara rinci
  5. Proses pembuatan laporan hasil penelitian yang memuat data-data, gambar, grafik atau sejenisnya dalam rangka mendukung hasil yang didapat sehingga dapat dibaca oleh orang lain
  6. Proses menyusun dan menyampaikan laporan secara sistemik dan jelas, menjelaskan hasil percobaan, mendiskusikan hasil percobaan, mengklasifikasikan data dan menyusun data serta menggambarkan data dalam grafik, tabel atau diagram.

Artinya bahwa pembelajaran Cooperatvie Learning TypeJigsaw lebih menitikberatkan pada pembelajaran yang interaktif antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru, memberi kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide, siswa dapat saling menambah kekurangan pembendaharaan kata dalam merangkai kembali cerita yang dipelajarinya. 

Kaitannya dengan keterampilan berkomunikasi siswa yaitu bahwa peningkatan kemampuan merangkai kata secara runtut (verbal) maupun non verbal sangat diperlukan sekali guna membantu mengembangkan hasanah Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi.


G. Hasil Belajar

1. Pengertian Hasil Belajar
Untuk mengetahui perkembangan sampai dimana hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam belajar, maka harus dilakukan evaluasi.Untuk menentukan kemajuan yang dicapai maka harus ada kriteria (patokan) yang mengacu pada tujuan yang telah ditentukan sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh strategi belajar mengajar terhadap keberhasilan belajar siswa.Hasil belajar siswa menurut Sagala (2007:13) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan perubahan yang diharapkan terjadi pada perilaku dan pribadi siswa setelah mengalami atau melalui proses belajar. Maksudnya setelah siswa mengalami aktivitas belajar mengalami perubahan prilaku yang tergantung pada yang dipelajari oleh siswa. Tujuan dari kegiatan belajar di sekolah untuk memperoleh hasil belajar.

Menurut Sudjana (1990 : 22) hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Sedangkan Soedijarto (2007:49)mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar mengajar dengan tujuan yang ditetapkan. Baik Sudjana maupun Soedijarto sama-sama menekankan kepada proses pembelajaran yang memberikan dampak hasil (output) berupa kemampuan yang diperoleh pasca-belajar.  Hal ini pun dipertegas oleh Dimyati (2002:32) bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Maksudnya belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan prilaku pada individu yang belajar.perubahan prilaku itu merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar.  Perubahan tingkah laku siswa sebagai akibat dari proses belajar yang dialaminya yang meliputi perubahan aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Adanya perubahan kemampuan ini baik yang berupa peningkatan ataupun berupa kemampuan baru.

Hasil belajar menurut Bloom dalam Rasyid (2007 : 13) mencakup peringkat dan  tipe hasil belajar, kecepatan belajar, dan hasil afektif. Hasil belajar ditentukan oleh kualitas proses pembelajaran. Pembelajaran di tentukan oleh karakteristik siswa. Hasil belajar yang berkualitas akan mempengaruhi siswa pada proses pembelajaranberikutnya. Menurut Bloom, kemampuan afektif merupakan bagian dari hasil belajar dan memiliki peranab yang penting. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor sangat ditentukan oleh kondisi afektif siswa. Siswa yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tersebut, sehingga diharapkan akan mencapai hasil belajar yang optimal.

Menurut Suprijono (2012:5) hasil belajar adalah pola pola perbuatan, nilai-nilai,pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi,dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa:
  • Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi symbol, pemecahan masalah maupun menerapkan aturan. 
  • Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengkategorisasi, kemampuan analisis sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.
  • Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi pengguan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
  • Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
  • Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar prilaku.

2. Faktor – faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (sudjana, 2002:39). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa perubahan kemampuan yang dimilikinya bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Demikian juga faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan yang paling dominan berupa kualitas pembelajaran. “Belajar adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi dengan lingkungannya “ (Ali Muhamad, 2004 : 14). 

Perubahan prilaku dalam proses belajar terjadi akibat interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya secara sengaja. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya apa bila  tidak terjadi perubahan dalam diri individu maka belajar tidak di katakan berhasil.

Melalui model pembelajaraan Cooperative Learning Type Jigsaw digunakan sebagai upaya untuk menciptakan proses belajar yang efektif, kreatif dan menyenangkan dari pengalaman nyata yang diterapkan kepada siswa. Dengan menerapkan model pembelajaran kooferatif tipe Inside Outside Circle dalam pembelajaran  akan berpengaruh terhadap peningkatan komunikasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn pokok bahasan Proklamasi dan Konstitusi Pertama.

***

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Dari Paparan atau penjelasan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa Model pembelajaran  yang diterapkan di Kelas VII A SMP Negeri 1 Wanasalam telah terbukti secara empiris dapat meningkatkan proses keterampilan berkomunikasi siswa. Kemampuan berkomunikasi siswa telah mencapai 76,43%  dan ketuntasan hasil belajar siswa telah mencapai 86,85%. Guru sudah menguasai pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw.

Melalui penerapan model pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn di kelas VII A SMPN 1 Wanasalam.


B. Saran
Dari makalah tersebut, banyak hal yang dapat kita pelajari. Seperti halnya yang kami harapkan dan sampaikan pada kata pengantar tugas makalah ini, yaitu semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat menambah wawasan kita dan pemahaman kita mengenai pengguanaan model tersebut di atas dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. 

***

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S .2011. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Ali, Mohammad. 2004. StrategiPenelitianPendidikan. Bandung: Angkasa Bandung. 
Burhanuddin Hamam. 2015. Microteaching dan Model-Model Pengajaran. Sunrise Yogyakarta.
Depdikbud. 1976. Kamus Umum Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:PN
Nuraeni ,Aan. 2013. Penggunaan Tipe Jigsaw Pada Pembelajaran Pkn dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Bela Negara dan Kerjasama Siswa Kelas IX SMPN I Cilegon .Tesis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Huda, M. 2012. Cooperative Learning Metode,Tekhnik, Struktur dan Model Penerapan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Joyce, Bruce. Weil, Marsha, dan Calhhaun, Emily.2009. Model-modelPengajaran (Models Of Teaching). Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Lie, Anita. 2002. Cooperaive Learning. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Mulyana, Deddy. 2007.Ilmu Komunikasi. Suatu Pengantar. Bandung Rosda.
Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT.Remaja
Riswandi. 2009. Ilmu Komunikasi. Jakarta. Graha Ilmu.
Sudjana, Nana. 2001. PenelitianHasilProsesBelajarMengajar. Bandung: Rosda Karya.
Suherman. E. Et al.2001. Strategi Pembelajaran Kontemporer.Bandung.
Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil Belajar.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Rusman. 2011. Model-ModelPembelajaran: Mengembangkan profesionalisme Guru. Jakarta. Rajawali Pers.
Slavin. Robert. E. 2008. Cooperative Learning (Teori, Riset dan Praktek). Bandung: Nusa Media.

***

Demikian Makalah Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw ini diposting, semoga sedikit banyaknya dapat membantu Anda dalam mencari materi yang berkaitan dengan makalah ini. Untuk melengkapi Makalah Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw ini silakan tambahkan di kolom komentar.
Sekedar Informasi
Baca dengan teliti, hindari copy paste. Jika artikel pada blog ini menjadi referensi silakan cantumkan sumber "nangkring.net".
Kamu dapat mengirimkan request artikel ke email: nangkringblog@gmail.com

Belum ada Komentar untuk "Makalah Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel