Cerpen Misteri | Namanya Au

Cerpen misteri akhir-akhir ini banyak diminati oleh pembaca di Indonesia maupun mancanegara. Cerpen misteri memang selalu menarik untuk dibaca, selain karena sifatnya yang menghibur juga dapat membuat jantung pembaca deg-degan dan membuat naik adrenalin pembaca. Cerpen misteri yang berjudul "Namanya Au" di bawah ini asik untuk dibaca terutama bagi pecinta cerita mesteri.

Nangkring.net_ Cerpen misteri Namanya Au mengisahkan seorang pengamen yang lidahnya putus oleh sebilah belati akibat perbuatan Ayahnya pada waktu Ayahnya membunuh Ibunya yang ketahuan selingkuh dengan pria lain. Sampai usia memasuki dewasa peristiwa pembunuhan Ibunya tersebut masih terus membayang-bayangi pikiran Au. Baginya kejadian tersebut adalah sesuatu yang sangat mengerikan sepanjang hidupnya, yang takkan pernah terlupakan

Sinopsis Cerpen Misteri | Namanya Au


Cerpen misteri yang berjudul "Namanya Au" merupakan cerpen misteri karya Fanny J. Poyk, penulis terkenal asal Indonesia. Selain itu cerpen misteri yang berjudul "Namanya Au" ini pernah dimuat di media Jurnal Nasional pada tanggal 03 Agustus 2009. Cukup lama bukan?

Nangkring.net_ Cerpen misteri Namanya Au mengisahkan seorang pengamen yang lidahnya putus oleh sebilah belati akibat perbuatan Ayahnya pada waktu Ayahnya membunuh Ibunya yang ketahuan selingkuh dengan pria lain. Sampai usia memasuki dewasa peristiwa pembunuhan Ibunya tersebut masih terus membayang-bayangi pikiran Au. Baginya kejadian tersebut adalah sesuatu yang sangat mengerikan sepanjang hidupnya, yang takkan pernah terlupakan.
Penasaran?
Langsung simak saja cerita misterinya di bawah ini!

Cerpen Misteri | Namanya Au

Penulis: Fanny Jonathans Poyk 

Au kembali bernyanyi. Belati yang diarahkan ke wajahnya telah membuahkan hasil yang teramat pilu bagi dirinya. Ia menjadi bisu karena belati itu telah memotong hampir setengah lidahnya. Au terus bernyanyi. Penumpang bis yang mendengar suaranya mengernyitkan dahi. Suara gitar dengan melodi yang menyayat berbalapan dengan suara Au yang bunyinya au…au…au.

Tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan. Kalimat yang dapat mengungkapkan isi hatinya bagai terhapus hembusan angin semilir yang masuk melalui jendela bis kota. Gitar usangnya terkelupas oleh rentang waktu yang sulit diukur berapa lama usianya. Matanya menatap kosong ke satu arah. Butir-butir keringat membasahi keningnya. Ia berusaha sekuat tenaga memberi makna kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir pucatnya. Namun, pendengar tetap saja tidak pernah mengerti apa yang ia ucapkan.

Namanya Au, begitu selalu ia menjawab bila ditanya. Entah apa kepanjangannya tak seorang pun tahu. Mungkin Au sendiri pun tidak. Menilik penampilannya, Au mungkin berusia enam atau tujuh belas tahun. Tubuhnya kurus, rambutnya hitam lurus dan sebagian poni menutupi matanya yang selalu menatap kosong. Au jarang tersenyum, namun, jika sesekali ia tertawa, wajahnya akan terlihat tampan, indah, seindah kulit kuning langsatnya yang bersih bersinar tatkala tertimpa cahaya matahari pagi.

Jalur Fatmawati - Blok M adalah daerah tempat Au mengais rejeki dan mengisi hari panjangnya yang ia lalui tanpa kenal lelah, cuaca yang buruk maupun tawa sinis dari orang-orang sekitarnya. Suaranya yang au…au… berusaha sekuat tenaga terlepas dari kerongkongan dan lehernya yang penuh dengan tonjolan urat. Mata Au melotot lebar bagai tercekik tatkala ia berusaha mengakhiri bait-bait akhir dari lirik lagu yang dibawakannya. Au berpacu dengan melodi yang ia mainkan melalui jari jemarinya yang lentik. Au seakan takut kehilangan momen demi momen saat matanya berpendar menatap cemas penumpang yang ada di dalam bis satu demi satu beranjak turun.

Wahai kalian, tolong…tolong… dengarkan bait terakhir dari lagu yang kunyanyikan. Jangan pergi…jangan pergi…Au menjerit dalam hati. Petikan gitarnya makin diperkuat. Dentingan melodi gitarnya bagai tangisan sendu yang menyayat di malam hari. Au menitikkan air mata tatkala ia mengakhiri lirik lagu yang dinyanyikannya. Gitar kesayangannya seolah tahu kalau majikannya tengah bersedih tatkala para penumpang turun dari bis dan tidak memberikannya sepeser pun uang.

Gumpalan awan hitam mengiringi langkah Au. Gitar kusam miliknya terkapit erat di ketiaknya. Au berceloteh pada dirinya sendiri dan juga pada gitarnya, hari ini apes sayang…tak apa. Meski hujan sebentar lagi akan turun, aku harus berpacu dengan gemericik suaranya yang deras dan tajam. Tatkala dilihatnya sebuah bis menuju ke arahnya, ia bersiap-siap meloncat ke dalam. Di sana ia akan kembali bersenandung, berjuang dengan keras menghabiskan lirik demi lirik lagu yang dihafalnya di luar kepala. Au akan berteriak sekuat tenaga meski suara yang keluar hanya terdengar bagai lolongan serigala di tengah padang gurun.

Sepuluh tahun yang lalu, ya, sepuluh tahun yang lalu, kejadian itu membentang dalam ingatannya, tajam dan jelas. Au tertatih-tatih mengikuti langkah ibunya tatkala pria kasar berbadan tegap dan bertato kepala naga mengejar-ngejar ibunya dengan sebilah belati. Sinar belati yang tajam itu kemudian mengarah langsung ke dada ibunya. Au menjerit meminta tolong pada siapa saja yang bisa membantu mereka. Namun jeritannya lenyap bersamaan dengan masuknya belati ke dada ibunya.

“Ingat, jika kamu berani menceritakan semua yang kamu lihat pada orang lain, nyawamu taruhannya!” kata ayahnya sambil mengacungkan belati berdarah itu ke wajahnya. Au gugup. Lidahnya kelu bagai kayu yang keras. Kekerasan demi kekerasan sudah biasa ia lihat. Tapi saat sang ayah membunuh ibunya, itu adalah kekerasan yang paling keras yang pernah dilihatnya.

“Kamu tahu kenapa aku membunuhnya?”

Au berdiri kecut, seluruh tubuhnya gemetar. Ia menatap belati yang penuh darah itu dengan wajah ketakutan.

“Karena aku tidak pernah bisa menerima perselingkuhan yang dilakukannya hingga melahirkan dirimu. Aku tidak pernah bisa menerimanya. Itu pantas diterima Ibumu. Dan sekarang, kamu juga harus menerima semua itu!”

Au merasa dunia tiba-tiba gelap. Tatkala belati yang digunakan menusuk dada ibunya terarah ke wajahnya, ia mulai berpikir telah berada di sisi ibunya. Wajah lelaki yang dipanggilnya ayah itu begitu kesetanan tatkala mengarahkan belati itu kepadanya. Au pasrah. Au hanya punya satu keinginan ikut dengan ibu. Ia mengatupkan matanya. Menerima dengan rela statusnya sebagai anak yang selalu dibenci ayahnya. Menerima takdirnya sebagai buah perselingkuhan ibunya dengan lelaki yang akrab dipanggilnya Om Beno, adik kandung ayahnya.

Au kembali bernyanyi. Belati yang diarahkan ke wajahnya telah membuahkan hasil yang teramat pilu bagi dirinya. Ia menjadi bisu karena belati itu telah memotong hampir setengah lidahnya. Au terus bernyanyi. Penumpang bis yang mendengar suaranya mengernyitkan dahi. Suara gitar dengan melodi yang menyayat berbalapan dengan suara Au yang bunyinya au…au…au…

Pemuda itu terus bernyanyi, petikan gitar yang mengiringinya berusaha keras menutupi suara bisunya yang merongrong tenggorokkannya untuk bisa mengeluarkan sepatah atau dua patah kata, agar penumpang yang mendengarnya mengamen bisa sedikit terhibur. Namun seberapa kuatnya ia mengeluarkan suara, tetap saja suara yang keluar bagai lolongan anjing yang sedang sedih di malam hari. Auu…auu…auu…

Penumpang kembali enggan memberikan uang receh padanya. Tak ada suara menghibur yang keluar dari bibirnya, jadi percuma saja jika dia diberikan uang, begitu pikir mereka. Au menatap satu-satunya uang lima ratus rupiah yang masuk ke kantong plastik bekas bungkus permen, hatinya kelu. Ia menatap uang itu dengan mata berkaca-kaca. Hari ini hanya uang lima ratus rupiah itu saja yang ia dapatkan. Padahal, sudah lima lagu ia bawakan, dan tiap lagu ia harus berjuang keras menata kalimat demi kalimat agar penumpang bis mengerti syair apa yang dinyanyikannya. Au turun dari bis dengan perasaan muram. Gitar kusamnya seakan mengerti apa yang dialami tuannya.

Aku tidak bisa bersuara
Aku pengamen bisu yang tidak punya suara
Aku bernyanyi dengan hati
Aku melantunkan semua derita yang kini kurasa
Tolong…tolong dengarkan aku bernyanyi

Au kembali bernyanyi di atas bis kota. Lagunya berirama riang, ekspresi wajahnya tampak gembira, tatapan matanya sedikit bersinar, Au mengubah gayanya bernyanyi. Petikan gitarnya dengan irama gembira, membangkitkan semangat para penumpang bis. Tatkala suaranya berkumandang penumpang kembali resah. Auu…auu…auu…suara itu membuat penumpang serta merta menoleh ke arahnya. Wajah Au yang ceria mendadak sontak berubah. Irama lagunya berubah menjadi tembang duka lara yang merindukan kehadiran ibunya. Meski pedih Au terus berau…au…au…, meski penumpang tak peduli ia tetap berau…au…au…

Namanya Au, di atas bis jurusan Fatmawati - Blok M, di situlah suaranya berpacu dengan deru bis yang meraung-raung. Lidah yang terpotong itu berusaha keras merangkai kata demi kata untuk mengeluarkan vocal yang indah. Namun, seberapa kerasnya ia berusaha, suara yang keluar tetap auuu…auuu…auuu.

Bagaimana cerita misterinya? menghibur bukan? memang cerpen-cerpen karya  Fanny J. Poyk selalu dapat menghibur para pembacanya. Jangan lupa baca juga Cerpen Horor | Cerita Para Hantu Penghuni Rumah Bu Nani.

Belum ada Komentar untuk "Cerpen Misteri | Namanya Au"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel