Cerpen Misteri | Kesumat

Cerpen Misteri | Kesumat

Kidung sendu teriring desahan angin. Dalam lantunannya, telah mengobok-obok jiwa yang rentan. Memaksa diri untuk tidak mendatangkan lagi bayang pemerkosa hati. Romantisme telah mati, terhenyak gelombang dusta, tergerus angin dan tenggelam dalam gelapnya malam. Ini bukan tentang kematian

Cerpen Bergenre Misteri yang berjudul Kesumat yang ditulis oleh Ovay Simangunsong IV mengisahkan seorang wanita bernama Marisa yang ditinggalkan oleh suaminya Kholis. Cinta Marisa pada Kholis yang dibalas tidak mengenakan membuat Marisa merasa kecewa terhadap Kholis.

Nangkring.net_ Cerpen Misteri ini mempunyai diksi konotatif yang dalam, rencana jahat Marisa terhadap Kholis tak terlihat dengan jelas namun tersirat.

K e s u m a t

Penulis: OS IV

Kidung sendu teriring desahan angin. Dalam lantunannya, telah mengobok-obok jiwa yang rentan. Memaksa diri untuk tidak mendatangkan lagi bayang pemerkosa hati. Romantisme telah mati, terhenyak gelombang dusta, tergerus angin dan tenggelam dalam gelapnya malam. Ini bukan tentang kematian.

Semula aku berpikir itu hanya sementara saja, demikianpun jiwa terlempar entah kemana. Malam itu barangkali persis kematian saja memata-matai diri.

"Saya ingin kita secepatnya bercerai!"

Ungkapan itu menelan bulat-bulat kesadaran dan memporakporandakan nalarku. Aku tak pernah meminta apapun darinya, bahkan meminta untuk mencintaiku saja tidak, kecuali meminta kerjasamanya untuk berusaha menjadi keluarga yang harmonis dan langgeng.

Sejak itu aku terpuruk, aku tak tahu lagi tentang nasib hati, tertatih-tatih dalam kesendirian seolah tak punya mata untuk menyaksikan keindahan di bumi ini.

"Naiklah ke atas gedung tertinggi, Marisa." Celetuk temanku Rara.

“Bunuh diri maksudmu?”

“Layak dicoba!” Rara meyakinkan.

***

Satu tahun sudah menjalani kesendirianku berpisah dengannya. Tetapi kisah itu sama sekali tak dapat enyah dalam imajiku. Nama, siluet, dan kenangan masih betah bergumul di jiwaku; Kholis.

"Bodoh!!" Teriakku dalam hati

"Tolol!!" Geramku penuh benci.

Sesekali mengecam, sesekali mengaduh. Ingin rasanya mencabik tubuh ini hingga berserakan, agar aku sendiri dengan jelas tak dapat mengenali diri. Seperti malam tanpa bintang, seperti purnama terhalang awan.

"Hellooo, dunia tak selebar daun kelor!!". Seringkali kata itu terdengar dari sahabat-sahabatku. Memang benar, tetapi sulit sekali mengaplikasikannya pada rasa jujur tentang cinta.

"Tuhan, apakah ini takdir?" Tanyaku setiap malam menjelang tidur. Teriring do'a dalam sunyi, menjerit dalam hati. Aku yakin Tuhan masih punya telinga untuk mendengarku. Aku juga yakin Tuhan tidak bodoh, pasti ada rencanaNya setelah ini.

***

"PLAKKK...!!" Sebuah tamparan mendarat pada pipiku.

"Tolong jangan tatap suami saya seperti itu!!". Bentak wanita separuh baya pemilik bibir merah jambu. Aku hanya melongo saja tak mengerti.

"Dasar wanita jalang, mata selalu saja jelalatan. Jangan mencari-cari kesempatan dong, paham kamu??" Cerocos wanita paruh baya itu padaku.

"Maaf, Bu saya tidak bermaksud demikian!!" Belaku.

"Alaaah, tadi saya lihat kamu memerhatikan suami saya terus, kamu menggodanya ‘kan? Sambar wanita itu sambil menarik tangan suaminya untuk pergi meninggalkanku dengan taxi yang mereka tunggu sejak tadi.

Selama perjalanan di dalam sebuah taxi yang melaju perlahan aku terus menerus terpikirkan kejadian tadi. Kejadian yang tak disangka-sangka sebelumnya. Ini kali pertama aku ditampar seseorang yang tak pernah kukenal. Aaah masa bodoh.

“Mbak ini mau ke mana? Dari tadi saya lihat Mbak sepertinya melamun terus.” Tanya sopir itu padaku, mungkin memerhatikanku sejak tadi.

“Buntuti taxi yang di depan itu pak!”

“Kholis, pisau ini sudah kusiapkan sejak lama, cukup untuk menyayat wajahmu dan mencabik-cabik dadamu!”.

Sampai di sini Cerpen Misteri Kesumat semoga terhibur, jangan lupa baca juga Cerpen Misteri | Namanya Au karya Fanny Jonathans Poyk.
LihatTutupKomentar
Cancel

Cancel

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel