Cerpen Romantis | Seonggok Rindu yang “Menggondok”

Cerpen Romantis | Seonggok Rindu yang “Menggondok”

Cerpen Romantis karya Ovay Simangunsong IV berjudul Seonggok Rindu yang “Menggondok” yang menceritakan suami istri atau sebuah keluarga yang pada awalnya dirasa kurang harmonis. Dimulai dari keegoisan seorang istri bernama Sekar yang merasa bahwa kehidapan rumah tangganya dengan Anjar merasa jauh dari keromantisan dalam membina keluarga. Untuk lebih jelasnya langsung saja baca cerpen romantis ini pelan-pelan agar dapat memaknai setiap kata demi katanya

Pengertian Cerpen Romantis

Cerpen Romantis atau cerita romantic merupakan cerpen yang bergenre roman atau cerita yang mengangkat kisah percintaan yang artinya cerpen yang mengisahkan sesuatu yang sifatnya romantis yang berkaitan dengan percintaan.

Cerpen romantis bisanya sangat disukai oleh kalangan remaja karena diksi atau sudut pandangnya yang mengandung gaya bahasa yang membuat hati terkesan. Cerpen Romantis juga banyak disukai tidak hanya oleh remaja namun orang-orang yang sudah tua pun sangat menyukai cerpen bergenre romantis ini. Cerpen romantis bersifat universal, artinya dapat disukai oleh kalangan manapun.

Sinopsis Cerpen Romantis

Di bawah ini contoh Cerpen Romantis karya Ovay Simangunsong IV berjudul Seonggok Rindu yang “Menggondok” yang menceritakan suami istri atau sebuah keluarga yang pada awalnya dirasa kurang harmonis. Dimulai dari keegoisan seorang istri bernama Sekar yang merasa bahwa kehidapan rumah tangganya dengan Anjar merasa jauh dari keromantisan dalam membina keluarga. Untuk lebih jelasnya langsung saja baca cerpen romantis ini pelan-pelan agar dapat memaknai setiap kata demi katanya.

Seonggok Rindu yang “Menggondok”

Penulis: OS IV

Nangkring.net_ Gemercik hujan di usianya yang sudah condong, dentum petirpun silih berganti seperti tidak mau kalah. Menggores jiwa yang rapuh, lebur dalam kesunyian. Membuat bumi seolah terkantuk-kantuk untuk tidur selamanya.

Sepi yang kian mencekam, menggambarkan pada hari esok yang nyap-nyap hampir terkikis deras hujan. Kerinduan pada mentari pagi, serta cahaya kedamaian yang rajin menembus pori-pori sukma dan keagungannya.

***

Seringkali ucap kasar terlontar begitu saja dari mulutku, kata yang tidak sepantasnya aku lontarkan pada suamiku sendiri. Entah mengapa, aku sendiripun tak tahu. Hanya karena Anjar selalu mengingatkan aku agar membiasakan diri untuk bangun lebih pagi, aku marah tak terkendali. Itu sebabnya Anjar memutuskan untuk pergi, seperti yang sering ia lakukan sebelumnya kala ia sudah tak dapat menahan dan mendengar kata-kata kasarku.

Anjar lebih memilih pergi menghindariku, ketimbang diam di rumah dan cek-cok denganku. Biasanya ia akan pulang satu hari kemudian, atau setelah kemarahanku reda dan memintanya untuk kembali pulang. Tapi tak biasanya Anjar sampai lima hari tidak pulang seperti sekarang ini.

“Mam, Ayah mana?” tanya Chalsa lirih.

Seketika terasa tersambar petir aku mendengarnya. Inilah pertanyaan yang paling kutakutkan terlontar dari mulut manis putriku. Bagaimana tidak, sedangkan aku sudah berjanji padanya bahwa Anjar akan segera pulang pada hari ini, sejak kepergiannya lima hari yang lalu.

Jujur aku tidak ingin lagi berbohong  pada anakku. Anjar tidak pulang bukan karena kesibukannya di kantor, seperti yang selalu aku katakan pada anakku untuk menutupi masalah  sebenarnya yang telah terjadi antara aku dan Anjar.

“Tunggu sebentar lagi ya sayang, mungkin Ayah  masih sibuk di kantor.” Jawabku dengan nada pelan memastikan. Padahal dalam hati aku terpukul, aku sendiri tidak tahu Anjar  pergi mau sampai kapan.

Sebagai seorang ibu, harusnya aku dapat menjadi teladan dan figur yang baik untuk anakku, juga mestinya  dapat menjadi istri yang diharapkan oleh suami. Tapi semua itu hanyalah harapan yang tak pernah aku dapatkan  sampai detik ini.

Berulanglkali aku mencoba, bermacam cara telah aku lakukan, sampai dalam setiap sujudku memohon petunjuk Tuhan atas kuasanya untuk mengusir semua keegoisanku dalam diri ini, tapi tetap tidak menghasilkan apa-apa. Sepertinya keegoisanku telah menyatu dalam darah dan dagingku. Aku merasa manusia paling tidak berguna di dunia ini. Ribuan Tanya sibuk berdesakan  memenuhi rongga kepalaku.

“Mengapa aku egois?” geramku dalam hati.

Aku tidak pernah menuruti petuah dari  suami, jangankan mengimplementasikan sarannya, bahkan mendengarkannyapun aku malas. Membangkang, menghujat, memalingkan muka, dan mencibir saja yang sering aku lakukan padanya.

Padahal aku juga menyadari bahwa yang telah aku lakukan merupakan kesalahan yang sangat besar, dan aku juga menyadari Anjar itu imam yang baik, ia penyabar, ia tak pernah lelah memberikan nasehat, serta Anjar selalu tersenyum kalaku marah dan protes. Aku juga kerap mengutuk diri sendiri. Mau jadi apa aku ini? Rasa syukur sangatlah jauh ada pada diriku, selain itu aku juga seperti tidak mengenali diriku yang sebenarnya.

Setiap Anjar hendak pergi ke kantor, mana pernah aku menyiapkan sarapan untuknya, mencium tangannya, atau berpesan agar ia selalu menjaga diri dengan baik ketika hendak bepergian. Ketika kepulangannya dari kantor pun aku seperti biasa bersikap acuh. tidak seperti istri-istri yang lain pada umumnya. Tapi Anjar tetap sabar menemaniku, ia juga selalu berjanji akan terus bersamaku sampai adzal menjemput. Baginya kesungguhan adalah segalanya, ” Jika kesungguhan kita hari ini tidak menghasilkan apa-apa, maka percayalah dikemudian hari kesungguhan itu akan mendatangkan hasil yang seperti kita inginkan. Karena pada dasarnya kesungguhan itu merupakan investasi keberhasilan di waktu yang akan datang.” Berulangkali Anjar selalu katakan itu padaku.

***

Aku tidak bisa terus menerus membohongi anakku sendiri. Bagaimanapun ia rindu pada ayahnya, demikian juga aku. Hanya saja aku tak pernah memperlihatkan semua itu pada Anjar, aku merasa tensi jika harus menunjukan itu semua.

Secepatnya kuraih ponsel. Lagi-lagi keegoisanku muncul. Aku malu jika harus mendengar suaranya dan memintanya untuk pulang. Sepertinya aku tidak akan mampu berkata apapun padanya lewat telepon.

“Mas, segeralah pulang. Chalsa merindukanmu”. Beberapa patah kata yang mampu kutuliskan. Walau kutahu, aku juga sangatlah merindukannya.

Sejenak pandanganku tertuju pada sebuah potret yang terpajang di meja riasku. Potret pernikahan antara aku dan Anjar.

“Aku mencintaimu Anjar”. Aku berkata lirih.

Khayalanku kembali terseok pada kisah empat tahun silam. Kisah di mana aku dan Anjar mulai meniti cerita asmara, menjadi sepasang kekasih yang terhanyut larut dalam keindahan duniawi yang tiada terkira mewahnya.

Meskipun aku mencintai Anjar, tapi bukan berarti aku konsisten terhadap yang namanya setia. Dulu pernah aku sering tergoda bujuk rayu pria lain, bahkan tidak hanya satu kali. Aku juga senang dengan selalu memperlihatkan bahasa tubuh yang seolah mengajak mereka untuk menggapai asmara, dengan satu kerlipan mata saja mampu memporakporandakan kokohnya benteng kesadaran mereka. Walau begitu, aku tidak kuasa dengan jutaan rayu manis Anjar, tuturnya begitu lembut. Tutur penuh cinta dari hatinya mampu membawaku terbang keseluruh pelosok surgaloka. Jiwa terasa luluh tak berdaya, seolah sihir dan semacamnya.

***

Kurasakan rindu pada Anjar semakin memuncak, rindu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya, rindu terpendam yang selama ini tak sadar telah aku kumpulkan sejak beberapa tahun lamanya. Segala rindu bermacam rindu kini menyekapku dalam ruang kemunafikan.

Jika Anjar kembali pulang. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku masih tetap egois dengan selalu berpura-pura dan menyembunyikan kerinduanku padanya? Aku sudah tidak ingin lagi hidup dengan kemunafikan. Aku sudah tak ingin lagi memegang prinsifku untuk tidak pernah memperlihatkan bahwa diri ini butuh Anjar, cinta Anjar, dan takut sekali kehilangan Anjar. Mungkin ini adalah waktunya untukku memperbaharui semuanya

“Tuhan . . . bawalah suamiku kembali, aku sangatlah mencintainya” jeritku dalam hati. Apalah jadinya aku nanti jika Anjar sampai tidak pulang dan meninggalkankku untuk selama-lamanya. Mungkin rasa nyeri yang mengabadi yang akan terjadi padaku. “Jangan Anjar, jangan tinggalkan aku” mohonku dalam hati, yang tak usainya tubuh bergetar dan bercucuran air mata.

***

Ditengah sibuknya pertengkaran dengan rasa takutku yang begitu hebat, aku dikagetkan oleh datangnya pesan singkat yang kulihat itu balasan pesan dari Anjar.

“Maukah engkau membukakan pintu untukku, Sekar?”

Seketika langit seolah runtuh, bumi terasa berguncang dengan hebatnya. Aku bahagia tidak terkira. Segera kuberlari ke luar kamar menuju pintu depan.

Anjar…!!

Brukkk...

Langsung kudekap, kurengkuh erat-erat tubuh Anjar. Aku terisak menjadi-jadi di dada bidangnya. 

“Mas, maafkan aku”

Sebuah kecupan kecil mendarat di keningku. Dengan nada bijak Anjar berkata “Maaf adalah menyesali perbuatannya, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak  pernah mengulanginya lagi”

Tuhan, Betapa bijaknya suamiku. Ia tidak pernah sama sekali berang dan bosan padaku, malahan ia selalu mengajarkan aku tentang kemurahan hati yang tidak terkira harganya.

“Terimakasih Mas” ucapku datar.

“Kembali kasih, Sekar. Lupakanlah masalah ini, dan marilah kita meniti jalan hidup yang lebih sempurna lagi".

the end

Nah sampai di sini Cerita Romantis berjudul Seonggok Rindu yang “Menggondok” semoga dapat menghibur kamu yang menyukai cerpen-cerpen bergenre romantis. Jangan lupa baca juga rpen Romantis | Ikrar untuk September
LihatTutupKomentar
Cancel

Cancel

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel