Perkembangan Bahasa Anak


Pengertian Perkembangan Bahasa Anak  

Pengetahuan tentang hakikat Perkembangan Bahasa Anak dan tahap-tahap perkembangan bahasa anak sangat penting bagi pelaksanaan pembelajaran bahasa. Oleh karena itu, guru SD perlu menguasai berbagai konsep yang terkait dengan perkembangan bahasa anak.

Anak kita dapat berbahasa dengan lancar, memerlukan latihan yang intensif dan bertahap. Hal ini sesuai dengan pendapat Soenyono Darjowidjojo (Tarigan dkk., 1998) bahwa pemerolehan bahasa anak itu tidaklah tiba-tiba atau sekaligus, tetapi bertahap. Kemajuan kemampuan berbahasa mereka berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosialnya. Oleh karena itu, perkembangan bahasa anak ditandai oleh suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompleks. Perkembangan bahasa anak itu dipengaruhi oleh  bakat bawaan, lingkungan atau faktor lain yang menunjang, yaitu perkembangan fisik dan intelektual.

Menurut Tarigan (1998) ada dua persyaratan dasar yang memungkinkan anak dapat memperoleh kemampuan berbahasa, yaitu potensi faktor biologis yang dimiliki sang anak, serta dukungan sosial yang diperolehnya. Selain itu, ada beberapa faktor penunjang yang merupakan penjabaran dari kedua hal di atas yang dapat memengaruhi tingkat kemampuan bahasa yang diperoleh anak. Faktorfaktor yang dimaksud adalah:
a. faktor biologis;
b. faktor lingkungan sosial;
c. faktor intelegensi; dan
d. faktor motivasi.

Sehubungan dengan hal tersebut, tangisan, bunyi-bunyi, atau ucapan yang sederhana yang tak bermakna, dan celotehan bayi merupakan alur perkembangan bahasa anak menuju kemampuan berbahasa yang lebih sempurna. Bagi anak, celoteh merupakan semacam latihan untuk menguasai gerak artikulatoris (alat ucap) yang lama-kelamaan dikaitkan dengan kebermaknaan bentuk bunyi yang diujarkannya.

Tahap-tahap Perkembangan Bahasa 

Ada beberapa ahli yang membagi tahap-tahap perkembangan bahasa itu ke dalam tahap pralinguistik dan tahap linguistik. Akan tetapi ada ahli-ahli lain yang menyanggah pembagian ini, dan mengatakan bahwa tahap pralinguistik tidak dapat dikatakan bahasa permulaan karena bunyi-bunyi seperti: tangisan, rengekan, dan lainlain dikendalikan oleh rangsangan (stimulus) semata. 
Sudah diuraikan sebelumnya bahwa kemampuan berbahasa anak-anak tidaklah diperoleh secara tiba-tiba atau sekaligus, tetapi berkembang secara bertahap. 

Tahapan perkembangan bahasa anak dapat dibagi atas:  
a. tahap pralingustik,  
b. tahap satu-kata,  
c. tahap dua-kata, dan   
d. tahap banyak-kata. 

1) Tahap Pralingustik (0 – 12 bulan) 
Sebelum mampu mengucapkan suatu kata, bayi mulai memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari satu tahun. Namun pada tahap ini, bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan anak belumlah bermakna. Bunyi-bunyi itu berupa vokal atau konsonan tertentu, tetapi tidak mengacu pada kata atau makna tertentu. Untuk itulah perkembangan bahasa anak pada masa ini disebut tahap pralinguistik (Tarigan dkk., 1998). Bahkan pada awalnya, bayi hanya mampu mengeluarkan suara yaitu tangisan. Pada umumnya orang mengatakan bahwa bila bayi yang baru lahir menangis, menandakan bahwa bayi tersebut merasa lapar, takut, atau bosan. Sebenarnya tidak hanya itu saja terjadi. Para peneliti perkembangan mengatakan bahwa lingkungan memberikan mereka halangan tentang apa yang dirasakan oleh bayi, bahkan tangisan itu sudah mempunyai nilai komunikatif.

Bayi yang berusia 4 – 7 bulan biasanya sudah mulai mengahasilkan banyak suara baru yang menyebabkan masa ini disebut masa ekspansi (Dworetzky, 1990). Suara-suara baru itu meliputi: bisikan, menggeram, dan memekik. Setelah memasuki usia 7 – 12 bulan, ocehan bayi meningkat pesat. Sebagian bayi mulai mengucapkan suku kata dan menggandakan rangkaian kata seperti “papapa” atau “mamama”. Ini dikenal dengan masa conical. 
 
2) Tahap Satu-Kata (12 – 18 bulan) 
Pada masa ini, anak sudah mulai belajar menggunakan satu kata yang memiliki arti yang mewakili keseluruhan idenya. Satu-kata mewakili satu atau bahkan lebih frase atau kalimat. 

Kata-kata pertama yang lazim diucapkan berhubungan dengan objek-objek nyata atau perbuatan. Kata-kata yang sering diucapkan orang tua sewaktu mengajak bayinya berbicara berpotensi lebih besar menjadi kata pertama yang diucapkan si bayi. Selain itu, kata tersebut mudah bagi si anak. Kata-kata yang mengandung konsonan bilabial (b, p, m) merupakan kata-kata yang mudah diucapkan anak-anak. Misalnya kata mama, mimik, papa, dsb. Selain itu, katakata tersebut mengandung fonem “a” yang secara artikulasi juga mudah diucapkan (tinggal membuka mulut saja). 

Memahami makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah mudah. Untuk menafsirkan maksud tuturan anak harus diperhatikan aktivitas anak itu dan unsur-unsur non-linguistik lainnya seperti gerak isyarat, ekspresi, dan benda yang ditunjuk si anak. Mengapa begitu? Menurut Tarigan dkk, (1998) ada dua penyebab, yaitu sebagai berikut: 

Pertama, bahasa anak masih terbatas sehingga belum memungkinkan mengekspresikan ide atau perasaannya secara lengkap. Keterbatasan berbahasanya diganti dengan ekspresi muka, gerak tubuh, atau unsur-unsur nonverbal lainnya. 

Kedua, apa yang diucapkan anak adalah sesuatu yang paling menarik perhatiannya saja. Jika tidak mengerti konteks ucapan anak, kita akan kesulitan untuk memahami maksud tuturannya.

Walaupun memahami makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah mudah, komunikasi aktif dengan si anak sangat penting dilakukan. Untuk dapat berbicara, anak perlu mengetahui perbendaharaan kata yang akan disimpan di otaknya dan ini bisa didapat ketika orang tua mengajak bicara. Kalau anak jarak diajak berbicara, kata-kata yang dia dapat sangat minim, sehingga penguasaan kosakata anak juga sangat minim. Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam menghadapi anak saat memasuki usia ini adalah “jangan memakai bahasa bayi untuk anak-anak, melainkan dengan orang dewasa.” Maksudnya, ucapkanlah dengan bahasa yang seharusnya didengar, sehingga si anak juga terpacu untuk berkomunikasi dengan baik.

3) Tahap dua-kata (18 – 24 bulan) 
Pada masa ini, kebanyakan anak sudah mulai mencapai tahap kombinasi dua kata. Kata-kata yang diucapkan ketika masih tahap satu-kata dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan, atau bentuk-bentuk lain yang seharusnya digunakan. Anak mulai dapat mengucapkan “Ma, maem”, maksudnya “Mama, saya mau makan”. Pada tahap dua-kata ini anak mulai mengenal berbagai makna kata, tetapi belum dapat menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu terjadinya peristiwa. Selain itu, anak belum dapat menggunakan pronomina saya, aku, kamu, dia, mereka, dan sebagainya. 
 
4) Tahap banyak-kata (3 – 5 tahun) 
Pada saat mencapai usia 3 tahun, anak semakin kaya dengan perbendaharaan kata. Mereka sudah mulai mampu membuat kalimat pertanyaan, penyataan negatif, kalimat majemuk, dan berbagai bentuk kalimat. Terkait dengan itu, Tompkins dan Hoskisson dalam Tarigan dkk. (1998) menyatakan bahwa pada usia 3 – 4 tahun, tuturan anak mulai lebih panjang dan tatabahasanya lebih teratur. Dia tidak lagi menggunakan hanya dua kata, tetapi tiga atau lebih. Pada umur 5 – 6 tahun, bahasa anak telah menyerupai bahasa orang dewasa. Sebagian besar aturan gramatika telah dikuasainya dan pola bahasa serta panjang tuturannya semakin bervariasi. Anak telah mampu menggunkan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan, termasuk bercanda atau menghibur. 

Selanjutnya, tidak berbeda jauh dengan tahapan perkembangan bahasa anak seperti yang telah diuraikan, Piaget (dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990) membagi tahap perkembangan bahasa sebagai berikut: 

a) Tahap meraban (pralinguistik) pertama pada usia 0,0 – 0,5. 
b) Tahap meraban (pralinguistik) kedua: kata nonsens,pada usia 0,5–1,0. 
c) Tahap linguistik I   : holofrastik, kalimat satu kata, pada usia 1,0–2,0. 
d) Tahap linguistik II  : kalimat dua kata, pada usia 2,0 – 3,0. 
e) Tahap linguistik III : pengembangan tata bahasa, pada usia 3,0 – 4,0. 
f) Tahap linguistik IV : tatabahasa pradewasa, pada usia 4,0 – 5,0. 
g) Tahap linguistik V  : kompetensi penuh, pada usia 5,0. 

Selain tahapan perkembangan bahasa anak seperti yang telah dipaparkan, Ross dan Roe (Zuchdi dan Budiasih, 1997) membagi fase/tahap perkembangan bahasa anak seperti berikut. 
  • Fase Fonologis 
  • Fase Sintaktik 
  • Fase Semantik 


Demikian uraian Perkembangan Bahasa Anak  ini diulas secara mendalam dan semoga bermanfaat bagi pembaca.
Sekedar Informasi
Baca dengan teliti, hindari copy paste. Jika artikel pada blog ini menjadi referensi silakan cantumkan sumber "nangkring.net".
Kamu dapat mengirimkan request artikel ke email: nangkringblog@gmail.com

4 Responses to "Perkembangan Bahasa Anak"

  1. Kalau selalu diajak bicara dengan bahasa yang baik dan benar, sering dibacakan cerita (buku), sering didongengi, anak-anak memang akan relatif bagus perkembangan kemampuan berbahasanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah bu, kebanyakan orang tua malas melakukan itu, termasuk saya hihi. Mungkin ibu punya saran untuk ini???

      Delete
  2. Oo gitu ternyata perkembangan bahasa anak itu terjadi. Baru tahu aku.

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel