Memparafrasekan Puisi

Memparafrasekan puisi adalah mengubah bentuk puisi menjadi prosa (memprosakan puisi) atau puisi diwajarkan sesuai dengan susunan bahasa yang normatif setelah sebelumnya dilakukan pemenggalan/ penjedaan dengan tepat. Kata-kata dalam puisi tersebut (bilamana perlu) diberi tambahan kata sambung seperti: dan, tetapi, meskipun, seperti, dsb. (yang diletakkan dalam kurung)

Memparafrasekan Puisi - Memparafrasekan puisi adalah mengubah bentuk puisi menjadi prosa (memprosakan puisi) atau puisi diwajarkan sesuai dengan susunan bahasa yang normatif setelah sebelumnya dilakukan pemenggalan/ penjedaan dengan tepat. Kata-kata dalam puisi tersebut (bilamana perlu) diberi tambahan kata sambung seperti: dan, tetapi, meskipun, seperti, dsb. (yang diletakkan dalam kurung).  Baca Juga materi Perkembangan Fonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik, dan Pragmatik

Download RPP SD Kurikulum 2013 Revisi Terbaru

Contoh Memparafrasekan Puisi

Sebagai contoh berikut dikutipkan sajak Chairil Anwar yang berjudul “Doa”.
DOA       
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
caya-Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintu-Mu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Setelah membaca ulang puisi tersebut beberapa kali sesuai dengan pemenggalan/ penjedaan larik-larik puisinya, kemudian disela-sela penggalan-penggalan itu disisipkan kata penghubung yang tepat pula, maka seluruh bait itu akan dapat dibaca secara denotatif makna sajak tersebut seperti berikut ini:

Tuhanku/ (meski)
Dalam termangu/ (tetapi)
Aku masih menyebut nama-Mu//

Biar susah sungguh/
mengingat Kau/ (yang ) penuh seluruh/
caya-Mu (terasa) panas/(dan) suci/
(yang kini kurasakan) tinggal (seperti) kerdip lilin/ di kelam sunyi//

Tuhanku/
aku (merasa seperti) hilang bentuk/
(dan) remuk//

Tuhanku/
aku (merasa seperti) mengembara/ di negeri asing//

Tuhanku/
di pintu-Mu/ aku mengetuk/
aku/ tidak bisa berpaling//

Pembuatan Parafrasenya

Bait pertama, si aku lirik (penyair) dalam puisi itu berucap bahwa meskipun dalam keadaan “termangu”, artinya dalam keadaan bimbang, antara percaya atau tidak, tetapi “masih menyebut nama-Mu”,artinya masih kadang-kadang: bersembahyang /berdoa, masih mengenal (ingat) nama Tuhan, masih mempercayai akan ada dan kekuasan Tuhan.

Bait kedua, pengertian „kadang-kadang‟ ternyata diperkuat lagi dengan larik “biar susah sungguh”. Itu artinya keragu-raguan si aku lirik benar-benar sudah „gawat‟. Akan tetapi, si aku lirik masih merasakan “caya-Mu” yang “panas” dan “suci”, meskipun tinggal dirasakan sebagai “kerdip lilin di kelam sunyi”.

Bait ketiga dan keempat, dalam situasi yang seperti itu (maksudnya dalam kebimbangan itu), aku lirik merasa seperti tak lagi berwujud, tak bisa berbuat apaapa, bahkan terasa “remuk” dan seperti “mengembara di negeri asing”. Artinya: terpencil, sendiri, tak tahu arah, tak tahu harus berbuat apa, tak bisa berkomunikasi dengan orang lain (bukankah jika Anda berada di negeri asing dan tidak menguasai bahasa mereka, Anda akan merasa dikucilkan, dan bingung?).

Bait kelima, beruntunglah si aku lirik akhirnya dengan jujur mengatakan: Tuhanku/ di pintu-Mu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling// Singkat kata, walaupun dalam kebimbangan yang luar biasa, si aku lirik menyadari bahwa tak ada cara lain kecuali mengetuk „pintu‟ Tuhan, sujud, menyembah pada-Nya („aku tak bisa berpaling‟).

Demikian materi dan contoh Memparafrasekan Puisi, semoga bermanfaat untuk kita semua dalam pembelajaran Memparafrasekan Puisi. Selanjutnya baca juga Materi Puisi Rakyat Lengkap
Sekedar Informasi
Baca dengan teliti, hindari copy paste. Jika artikel pada blog ini menjadi referensi silakan cantumkan sumber "nangkring.net".
Kamu dapat mengirimkan request artikel ke email: nangkringblog@gmail.com

Belum ada Komentar untuk "Memparafrasekan Puisi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel